Wednesday, July 29, 2009

Penipuan Berkedok Casting Sinetron

Senin malam sesaat setelah tiba di rumah sehabis lelah bekerja seharian, aku merebahkan punggung yang pegal di sandaran kursi sambil menikmati segelas teh hijau hangat. Sementara kedua anakku dan ibunya asyik dengan kegiatan masing-masing. Ari asik main gitar di kamar, sedangkan Ratri dan ibunya lebih suka nonton TV.

Tiba-tiba Ratri menghampiriku dengan ekspresi penuh harap, aku hapal banget dengan ekspresinya ini...pasti ada maunya.

"Pak, tadi siang sehabis pulang sekolah adik ditawarin sama orang untuk jadi figuran di sinetron, boleh nggak...boleh ya?" Begitu rengeknya membuka percakapan kami.

"Hah...main sinetron? Gak salah, dik...main sinetron itu tak semudah yang kau kira...syaratnya ketat dan mereka tak gampang mengambil orang sembarangan. Terus, siapa yang ngajak kamu?" Tanyaku dengan perasaan lumayan kaget dan penasaran.

"Seorang mbak-mbak..."

"Kamu kenal dia?"

"Tidak..."

"Kalau tidak kenal kenapa kamu percaya?"

"Soalnya temen-temen adik juga diajak... besok setelah jam sekolah, orangnya mau motret kami dulu sebelum syuting."

Instingku sebagai orang tua langsung muncul begitu mendengar penuturan anak gadisku yang tengah beranjak remaja ini. Ada beberapa hal yang membuatku curiga, sepertinya ada maksud tertentu di balik ajakan yang amat menggiurkan itu. Dengan panjang lebar kujelaskan padanya dan tentu saja dengan menjabarkan beberapa kemungkinan yang terjadi jika dia memenuhi ajakan orang yang tak dikenal.

Sungguh aku dibuat risau dengan sikap anak gadisku semata wayang ini yang belakangan cenderung semaunya, keras kepala dan mudah ngambek apabila yang dikehendaki tak dituruti. Kata-kata wejangan yang diucapkan orang tua sampai berbuih-buih pun terkadang hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Rupanya sebelum minta ijin kepadaku ia telah merayu ibunya terlebih dulu. Seperti sudah bisa ditebak, pendapat ibunya pun ternyata sama dengan bapaknya. Ya iyalah...mana ada sih orang tua yang mau anaknya celaka?

Obrolan malam itu pun akhirnya diakhiri gerutuan anakku dan bunyi pintu kamar dibanting. Ya Allah...mudah-mudahan Kau luaskan kesabaran kami dan Kau bukakan mata hati putri kami.
Dan malam pun kian larut dalam hening.

***********


Pagi harinya semua berjalan seperti biasa, sebuah rutinitas yang selalu kami jalani setiap hari. Kedua anakku mencium tangan bapak ibunya berpamitan hendak berangkat sekolah. Ari saat ini duduk di kelas X SMA Negeri 2—rupanya tengah menikmati kebanggaan menjadi bagian "the putih abu-abuers"—sedangkan Ratri masih duduk di kelas VIII SMP Negeri 6. Ekspresi wajahnya tak menampakkan sisa kekesalan tadi malam. Kami berdua pun melepaskan keberangkatan mereka dengan senyum. Semoga saja petuah-petuah yang kami berikan tadi malam ada manfaatnya.

Sore hari sehabis ashar, henponku yang tergeletak di atas meja kerja berbunyi. Suara ibunya anak-anak dari seberang sana.

" Assalamualaikum...pak, koq si Ratri belum pulang juga ya? Jangan-jangan dia ikut ajakan orang itu..." Ada nada kuatir dari suaranya.

Deg...jantungku serasa berhenti berdetak. Kulirik jam di komputerku menunjukkan pukul lima lebih. Biasanya tak sampai selarut ini Ratri berada di sekolah, sementara henponnya ia tinggalkan di rumah dalam keadaan baterai habis. Ibunya yang bermaksud menghubungi teman-teman sekolah yang tercatat di henponnya pun mengalami kesulitan membukanya, sedangkan aku masih berada di kantor. Dalam kondisi seperti ini hanya doa yang bisa kami panjatkan semoga anakku baik-baik saja.

Waktu bergulir, sore pun mendekati ambang senja...sebentar lagi adzan maghrib dikumandangkan. Di puncak ketegangan yang kurasakan, mendadak henponku berbunyi lagi...suara ibunya anak-anak lagi.

" Assalamualaikum...anaknya udah pulang nih pak. Panjang sekali ceritanya...nanti aku ceritain di rumah aja..."

Cesss...jantungku mendadak dingin serasa disiram air. Meskipun begitu hati merasa tak tenang dan penasaran dengan apa yang dialami anakku tadi ditambah perasaan jengkel karena omonganku yang tak dipatuhi. Setelah shalat Maghrib kuputuskan segera berkemas dan pulang.

Jam setengah sembilan malam aku tiba di rumah. Kulewati kamar anak perempuanku yang tertutup rapat, sepertinya ia ketakutan dan merasa bersalah sehingga lebih memilih mengurung diri di kamar. Dari penuturan isteriku baru aku tahu cerita sebenarnya meskipun tak selengkap bila keluar dari mulut anakku sendiri.

Ceritanya si Ratri dan gengnya (kalau tidak salah berlima) diajak wanita itu ke sebuah tempat pencetakan foto yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Mereka diminta meminjamkan hp dan kamera (kebetulan ada seorang anak yang membawa kamera digital pinjaman) buat memotret masing-masing anak. Yang mengherankan si perempuan ini memiliki hp canggih (mirip BB) tapi kenapa justru meminjam hp anak-anak yang kualitasnya masih di bawah miliknya. Bahkan perempuan itu menolak menerima foto cetak yang dibawa seorang anak dengan suatu alasan yang dibuat-buat.

Pada sebuah sesi pemotretan di mana anak-anak ini disuruh rebah di lantai dengan posisi miring membelakangi kamera. Kesempatan itu dimanfaatkan si perempuan untuk kabur dengan membonceng sepeda motor RX King yang ternyata telah menunggu di luar. Dengan demikian berakhirlah acara casting pura-pura ini. Kini tinggal sekelompok anak perempuan dengan seribu penyesalan, sadar telah kena tipu perempuan tadi. Sebuah henpon dan sebuah kamera digital melayang di depan mata mereka.

Kejadian ini telah dilaporkan ke polisi oleh orang tua salah seorang murid. Untuk itu anak-anak harus jadi saksi di kantor polis, akibatnya semua anak pulang terlambat. Si Ratri sempat menghubungi rumah untuk memberi tahu ibunya tapi karena rumah kosong jadi tidak ada yang mengangkat telepon. Kenapa tidak nelpon bapaknya di kantor? Jawabannya simpel, tentu saja karena dia takut dimarahi gara-gara telah mengabaikan omongan bapaknya.

Aku melihat ada sebuah pergeseran cara anak-anak generasi sekarang menatap masa depan. Sebuah pencapaian (baca: prestasi) yang dilewati dengan suatu proses yang membutuhkan usaha dan keseriusan mulai ditinggalkan. Mereka lebih menyukai jalan pintas—segala sesuatu yang dicapai secara instan. Dalam hal ini pengaruh media masa amat besar, terutama televisi. Media ini ikut bertanggung jawab menciptakan generasi hedonistik, dimana segala hal diukur dengan kebendaan. Bagi anak-anak yang baru berkembang secara fisik dan emosional, mereka mudah sekali dipengaruhi. Kondisi seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penipu yang tahu benar psikologi anak remaja.

Kami sebagai orang tua merasa beruntung anak-anak telah kembali dengan selamat. Apa jadinya kalau mereka mengalami hal-hal yang kami takutkan misalnya penculikan yang saat ini tengah marak di kalangan anak usia sekolah, lebih jauh lagi mengalami trafficking, suatu bentuk perdagangan manusia...naudzubillahimindzalik!
Semoga saja pengalaman ini bisa menyadarkan anak perempuanku agar lebih berhati-hati melangkah menuju kedewasaan.

Monday, July 27, 2009

Curhatan Seorang Penglaju

Pagi itu, waktu menunjukkan jam delapan kurang dua menit, angkot yang kunaiki merayap memasuki jalanan di sekitar stasiun Bojong Gede yang rusak dan macet. Seperti inilah suasana sehari-hari di sini, serba semrawut karena angkot dan ojek pada ngetem sembarangan di tempat yang tak semestinya. Kondisi jalannya pun, minta ampun...sempit dan berlubang-lubang lebih pantes buat angon bebek. Sungguh mengherankan, kondisi jalan sudah separah itu tapi belum ada tanda-tanda mau diperbaiki.

Terdengar klakson KRL melintas dari arah Bogor memasuki stasiun Bojong Gede, tanp
a berpikir panjang aku turun dari angkot terus berlari menuju stasiun (tentunya setelah bayar ongkos). Ini kulakukan untuk menghemat waktu daripada harus nungguin angkot masuk terminal dulu.

Dengan nafas ngos-ngosan sampailah aku di peron stasiun dan hampir saja nabrak orang yang antri tiket. Mendadak lututku melemas saat melihat KRL ekonomi itu berlalu meninggalkan stasiun dengan suara klaksonnya yang panjang membahana. Meninggalkan diriku dengan mulut melongo sambil menatap pantat kereta itu menjauh kemudian lenyap di tikungan. Sungguh keterlaluan... tak memahami perasaan orang yang mati-matian mengejarnya umpatku dalam hati. Jam menunjukkan pukul delapan lewat dua menit. Kekecewaanku pertama pagi itu.

Langkahku terasa berat menyusuri sepanjang peron stasiun. Biasanya mata suka jelalatan kemana-mana mencari penampakan yang bening-bening dan wangi-wangi. Tapi kali ini otakku lagi males berfikir ke arah sana. Meskipun kecewa, aku pendam perasaan itu dan berharap semoga kereta berikutnya segera tiba

Ting tong ting tong...suara dari pengeras suara stasiun mengumumkan posisi KRL berikutnya. Suaranya bersaing dengan suara pengajian dari masjid seberan
g. "Mohon perhatian...KRL ekonomi jurusan Jakarta yang berangkat dari stasiun Bojong Gede pukul 08.15, hari ini keretanya DIBATALKAN berhubung rangkaiannya mengalami gangguan". Gubraaaaakkk...!!! Atap peron serasa runtuh menimpa kepalaku.

Aku menyumpah semampuku (lagi-lagi hanya di dalam hati)...KRL y
ang diharapkan bisa jadi pengobat kecewa malah membuat kekecewaanku semakin bertumpuk . Inilah kondisi KRL kita itu teman. Setiap hari ada saja kereta yang dibatalkan. Kalau pun jalan, bisa dipastikan cuma 1 set rangkaian yang terdiri cuma 4 gerbong. Padahal untuk menunggu kereta ini butuh waktu lebih dari 1 jam setelah kereta-kereta "terhormat" (Ekspres AC dan Ekonomi AC) dipersilakan jalan duluan. Inilah kekecewaanku yang ke-dua pagi ini.

Mungkinkah ini taktik dagang dari PT KAI untuk secara pelan-pelan mengkondisikan para penumpang berpindah ke kereta AC kemudi
an mematikan kereta ekonomi sama sekali? Bukan bermaksud suudzon sih, tapi rasanya analisa ini cukup masuk akal. Terlebih lagi jauh hari sudah terdengar kabar burung kalau PT KAI bakal menghapus KRL ekonomi. Aku jadi bertanya dalam hati bagaimana nasib para pedagang tangga dan bangku-bangku kerajinan dari bambu yang setiap hari memanfaatkan jasa kereta murah dan merakyat ini? Masihkah mereka diperbolehkan mengangkut barang-barang bervolume besar itu ke dalam KRL ber-AC, seandainya KRL ekonomi benar-benar dihapuskan?

Aku perhatikan sejak PT KAI Divisi Jabotabek bertranformasi menja
di PT KAI Commuter, kondisi per KaErEl-an bukannya semakin rapi malah jadi acakadut. Ada saja gangguan setiap hari. Banyak kereta tua dipaksakan jalan sehingga berakibat mogok dan mengganggu kelancaran perjalanan, karena jadwal terganggu penumpang jadi menumpuk, karena penumpang menumpuk KRL jadi penuh sesak, karena membawa beban melebihi kapasitas KRL jadi sering rusak dan mogok. Begitu seterusnya, berputar seperti lingkaran setan. Sejauh ini belum ada upaya signifikan untuk mengatasinya, misalnya dengan mengganti KRL yang lebih fresh. Bukankah selama ini PT KAI sering mendapat hibah KRL bekas dari Jepang? Kenapa kereta-kereta itu lebih diprioritaskan untuk KRL ekonomi AC dan Ekspres? Terlihat sekali kalau PT KAI Commuter pilih kasih.

Setiap jam-jam sibuk (saat pagi dan petang hari) penumpukan penumpang terj
adi hampir di semua stasiun. Pindah ke KRL ekonomi AC? Setali lima uang (biar gak bosen tiga diganti lima) alias sama aja atau malah lebih parah. Dalam kondisi gerbong penuh sesak dan pintu tertutup, dinginnya air conditioner pun sudah tak berpengaruh sama sekali. Gerbong jadi pengap karena penuh karbon dioksida akibatnya dada rasanya sesak buat bernafas. Aku pernah mengalami kondisi seperti ini bahkan nyaris pingsan.

Silakan dipikir...kalau naik kereta bertarif Rp 5.500,- saja kita masih belum mendapatkan pelayanan yang memadai, bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita yang hanya mampu naik KRL ekonomi bertarif Rp 1.500,- sampai Rp 2.500,-?
Nasib para penglaju (baca: commuter) memang tak pernah berubah da
ri dulu meskipun pengelolanya berganti-ganti nama dan bentuk.

Tak bisa dipungkiri masih banyak penumpang KRL ekonomi yang tak b
eli tiket. Kelakuan mereka ini boleh jadi dipengaruhi sikap pengelola KRL sendiri yang tak tegas bertindak, bahkan sering terkesan permisif atau barangkali malah takut? Parahnya lagi lantas digeneralisasi kalau penumpang KRL ekonomi pada umumnya tak beli tiket. Padahal yang disiplin membeli tiket dan kartu abunemen pun tak kalah banyaknya. Kalau saja mereka lebih tegas dan berani mengambil sikap, pastilah alasan merugi yang suka digembar-gemborkan para pemegang otoritas perKaErElan itu takkan terdengar lagi.

Kulirik jam tanganku, menunjukkan pukul sembilan kurang tujuh menit. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya KRL yang ditunggu pun tiba. Kondisinya jangan ditanya lagi...penuh sesak sampai banyak penumpang yang duduk di atap. Kalau udah begini masalah keselamatan diri cuma jadi prioritas ke sekian, pokoknya bisa sampai tujuan aja udah bersukur. Dengan mengerahkan segenap tenaga aku berhasil masuk ke dalam gerbong yang pengap.

Sebenarnya bisa saja kuputuskan naik KRL ekonomi AC yang berangkat duluan seperti yang biasa kulakukan setiap kali terjadi masalah seperti ini. Kali ini aku berusaha tidak tunduk pada taktik dagang pengelola KRL terlebih hatiku sudah kesal banget...biarlah telat sekalian.

Aku memilih posisi di dekat sambungan gerbong dengan harapan mendapatkan tempat lebih lega. Perkiraanku meleset ternyata posisi ini telah "dikuasai" segerombolan orang yang dengan santainya duduk lesehan tak peduli sama penumpang lainnya yang rela berdiri dan menahan dorongan dari arah luar agar tak ambruk menimpa orang-orang yang sedang "tahlilan" ini. Di KRL ekonomi terlhat sekali karakter umum orang Indonesia yang komunal, artinya lebih senang berkelompok dalam sebuah komunitas. Mungkin ini sebuah upaya mereduksi segala tekanan hidup ya? Karena penumpang KRL umumnya memang bukan dari golongan yang serba berkecukupan.

Jam sepuluh lebih tiga menit aku sampai di kantor. Sejam yang lalu, janji dengan seorang teman sudah aku batalkan. Meski dengan perasaan tidak enak dan malu dengan teman-teman yang udah datang lebih pagi, kupaksakan juga untuk bersikap wajar saja...toh mereka juga tak akan bertanya macam-macam. Gara-gara KRL semua yang aku jadwalkan pagi itu berantakan...inilah kekecewaanku ke-tiga kalinya.

Sungguh tak nyaman jadi seorang penglaju (baca: commuter). Ini bukan pilihan hidup tapi sebuah keterpaksaan, apalagi harus menggantungkan diri pada sebuah moda transportasi bernama Kereta Rel Listrik (KRL) ekonomi yang para pengelolanya tak pernah berpihak kepada kami, para penumpang kelas teri.

Thursday, July 9, 2009

Jalan Raya Bogor: Sepenggal Kisah Masa Lalu

Siang itu matahari bersinar dengan garangnya. Kereta kuda van Riemsdijk berjalan tertatih menyusuri jalan tanah bergelombang menuju rumahnya di Tandjong Oost. Debu tebal mengepul di belakang roda yang berputar menimbulkan suara berderak. Di depan sana, dari jarak cukup jauh ia melihat sebuah kereta lainnya berhenti membentuk siluet bergoyang akibat fatamorgana.

Van Riemsdijk memacu kudanya dan berhenti di belakang kereta mogok itu. Setelah memarkir kereta di bawah sebuah pohon asam yang rindang, ia turun dan berjalan menghampiri. Ia melihat seseorang berjongkok memeriksa roda kereta yang patah asnya, seseorang lainnya berdiri di sebelahnya sambil berkacak pinggang dengan raut muka kesal dan bibir yang tak berhenti menyumpah. Laki-laki itu memakai baju dan topi mirip dengan yang dikenakan Kaisar Napoleon dari Prancis.

Melihat penampilannya, van Riemsdijk langsung yakin kalau lelaki ini pastilah Marsekal Herman Willem Daendels yang sedang dalam perjalanan menuju Buitenzorg. Tanpa membuang waktu lagi ia lantas memberi hormat dan menyapanya dengan ramah.

Sejurus mereka saling bercakap, selanjutnya setelah tahu duduk persoalannya, van Riemsdijk menawarkan kereta kudanya sebagai ganti kereta Daendels yang mogok itu. Dengan senang hati Daendels menerima tawaran van Riemsdijk sambil berkata: " Ah tuan sungguh sopan sekali, padahal saya berfikir kalau pun seandainya tuan tidak menawarkan kereta ini, pastilah saya akan mengambilnya begitu saja. Baiklah tak jadi soal, betapa pun juga saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan tuan." Setelah itu Daendels meninggalkan van Riemsdijk yang berdiri terpaku memandang keretanya bergerak meninggalkannya sendirian di tengah jalan, kemudian lenyap dari pandangan mata.

Sekarang giliran van Riemsdijk—keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda: Jeremias van Riemsdijk (1712-1777) yang kebingungan tak tahu dengan kendaraan apa ia pulang ke Groeneveld, rumahnya di Tandjong Oost (Tanjung Timur, dekat Condet). Padahal Groeneveld jaraknya masih beberapa pal dari tempatnya berdiri ini. Akhirnya tuan-tanah yang berbadan tambun ini memutuskan pulang dengan berjalan kaki di tengah teriknya matahari.

Itulah sebuah fragmen kisah masa lalu dari ribuan kisah lainnya yang pernah terjadi di sebuah jalan raya yang sekarang bernama Jalan Raya Bogor. Sebuah jalan yang dahulunya merupakan akses utama dari Batavia ke Buitenzorg. Namun dengan dibukanya jalan tol Jagorawi, lambat laun peran jalan ini pun tergantikan meskipun tak mengurangi volume kendaraan yang lalu-lalang di atasnya.

Dahulu untuk mencapai Buitenzorg dari Batavia diperlukan waktu sekitar 4 jam melewati jalan ini (seperti diceritakan Gustaaf Willem van Imhoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintah dari 1743 sampai 1750). Bahkan Marsekal Herman Willem Daendels pernah tak bisa mencapai Buitenzorg dalam waktu 1 hari karena kondisi jalan yang buruk dimana banyak sungai meluap hingga menyebabkan jalan yang dilewati bagaikan rawa-rawa.

Pada KM 34 terdapat Pasar Cimanggis, sebuah tempat yang dahulu dimiliki oleh tuan tanah yang rumahnya terletak tidak jauh dari sini. Tempat ini jaman dulu merupakan pos perhentian bagi orang-orang yang tengah melakukan perjalanan ke Buitenzorg atau Tjipanas. Di sini orang bisa beristirahat sejenak sambil mengganti kuda-kuda mereka dengan kuda yang lebih segar kondisinya (seperti lukisan Johannes Rach di bawah). Maklum perjalanan ke Buitenzorg bukanlah hal yang mudah dikarenakan kondisi jalan yang buruk waktu itu.

Kondisi Jalan Raya Bogor saat ini memang sangat jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Di kanan kirinya telah penuh dengan bangunan-bangunan baru dengan peruntukan sebagai rumah pribadi, kantor, pabrik maupun toko-toko. Kalaupun masih ada yang bisa dijadikan penanda masa lalu, itu adalah pohon-pohon asam tua yang masih tumbuh beberapa buah berderet di sepanjang jalan ini. Disamping itu masih ada satu-dua rumah besar milik bekas tuan-tanah yang masih berdiri menunggu runtuh secara perlahan karena sikap generasi sekarang juga penguasa yang tak peduli lagi dengan sejarah dan masa lalunya. Sungguh menyedihkan.

Sumber foto:
• Wikipedia-Daendels (lukisan Raden Saleh)
• Rijksmuseum.nl - lukisan Johannes Rach

• Koleksi pribadi

Tuesday, July 7, 2009

Rumah tuan-tanah Cimanggis

Setiap hari Minggu selama 2 bulan ini aku hilir mudik melintasi jalan antara Bojong Gede—Cibinong—Gandaria guna mengikuti suatu kegiatan. Kesempatan ini sekaligus aku pergunakan untuk jalan-jalan—setelah kegiatan selesai pada pukul 12 siang—dan hunting tempat-tempat bersejarah yang nyaris tak dikenal orang lagi, apalagi jalur yang aku lalui ini merupakan sepenggal jalan tua dan legendaris sebagai penghubung Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) yang telah ada sebelum Marsekal Herman Willem Daendels memerintahkan membangun De Grote Posweg atau Jalan Raya Pos antara Anyer sampai Panarukan yang kebetulan melewati jalur ini. Sebagai jalur utama waktu itu, pastilah jalan ini menyimpan sejarah yang penting bagi perjalanan panjang negeri ini, khususnya peninggalan berupa bangunan tua bercita seni tinggi.

Aku ingat sebuah buku yang ditulis Adolf Heuken berjudul Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta yang menyebutkan sebuah rumah tuan tanah di daerah Cimanggis, Depok. Letak rumah ini berada di Km 34 Jalan Raya Bogor dari arah Jakarta, tidak jauh dari Pasar Cimanggis. Pada awalnya memang agak sulit menemukan rumah seperti yang ditulis di buku itu, karena tidak seperti bayanganku semula bahwa sebuah rumah besar dan terpandang seharusnya terletak di tepi jalan raya. Ternyata dugaanku meleset, rumah itu berjarak sekitar 1 Km dari Jalan Raya Bogor di dalam Kompleks RRI Cimanggis. Dari jalan raya, rumah tuan-tanah itu sebenarnya sudah kelihatan atapnya meskipun memerlukan kecermatan mata dalam mengamati ditambah insting, tentu saja. Hanya dengan melihat bentuk atapnya dari kejauhan, aku merasa yakin telah menemukan objek yang kucari-cari itu. Kenapa? Karena bentuk fisik atap rumah itu jauh berbeda dibandingkan atap-atap bangunan sekitarnya, selain bentuknya yang aneh —seperti segitiga yang terpancung bagian atasnya—ukurannya pun jauh lebih besar dibandingkan atap rumah lainnya.

Sebenarnya lokasi Rumah Cimanggis amat mudah dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua, tetapi bagi kendaraan bermotor roda empat sungguh merepotkan karena pintu gerbang menuju Kompleks RRI ini sekarang telah dipasangi portal. Belakangan aku mendapat informasi dari masyarakat sekitar jika ingin melintasi portal ini kita harus mengeluarkan "uang rokok" buat penjaganya. Bagiku berjalan kaki pun tak jadi soal asal bisa mengamati rumah tuan-tanah Cimanggis itu dari dekat, sekalipun harus berada di bawah terik matahari yang saat itu berada tepat di atas kepala. Belum lagi di kanan kiri jalan hanyalah lapangan rumput minus pohon peneduh serta beberapa menara pemancar yang bertebaran di sekitarnya. Sulit membayangkan dulunya tempat ini merupakan perkebunan yang besar, dengan pohon-pohon lebat menutupi permukaan tanahnya.

Tak lama menapaki jalan beraspal yang cukup mulus, sampailah aku di depan halaman rumah tuan-tanah Cimanggis ini. Halaman rumah dipagari tembok batako dimana di beberapa sudutnya telah tertutup rumput alang-alang. Rumah Cimanggis berdiri dengan gagahnya selama beberapa abad di tempat itu, tampak besar dan kokoh meski tak menutupi kerentaannya. Atapnya yang berwarna merah terakota berupa genteng tanah liat terlihat luar biasa besar apalagi jika dibandingkan dengan atap rumah masa kini. Meskipun sepintas masih terlihat utuh tapi jika kita amati lebih teliti akan terlihat lubang menganga di sana-sini, apalagi kondisi atap yang menutupi serambi belakang rumah terlihat runtuh di beberapa bagian karena kondisi kayu yang menopangnya telah lapuk oleh air hujan.

Aku berjalan mengitari halaman rumah Cimanggis dari samping kanan rumah menuju ke halaman belakang dimana tampak semak-semak dan pepohonan tak terawat tumbuh di sekelilingnya. Tanaman-tanaman ini amat mengganggu arah pandang kita dalam mengamati bagian eksterior sehingga upayaku untuk memotret bentuk utuh rumah ini menemui kendala. Disamping itu, serambi yang mengelilinginya sekarang telah ditutup dengan batako, seng ataupun kayu di beberapa bagian secara asal-asalan hingga semakin menimbulkan kesan berantakan.

Bagian teras depan rumah ini ditopang beberapa pilar dari batu bata berbentuk silinder dan beberapa di antaranya berdiri berpasangan dekat pintu utama, semakin memberi kesan kokoh rumah ini. Bagian atas pintu utamanya berhiaskan ukiran halus bermotifkan jambangan bunga yang sekaligus berfungsi sebagai lubang ventilasi. Semua jendela di rumah ini berbentuk serupa baik yang menghadap ke luar rumah maupun yang menghubungkan antar ruangan, dengan lengkungan di bagian pucuknya dan bisa didorong ke atas. Bentuk jendela ini rupanya sangat lazim pada masa itu. Teras depan ini sekarang ditempati oleh orang yang mengaku sebagai penjaga rumah. Sangat disayangkan banyak barang rumah tangga miliknya berserakan di serambi ini sehingga menimbulkan kesan kumuh dan berantakan bahkan kusen pintunya pun telah dipaku di beberapa bagian untuk menggantung pigura.

Setelah mengobrol beberapa saat dengan penjaga itu, aku minta ijin masuk ke bagian dalam rumah untuk mengambil gambar. Kondisi di dalam ternyata tak kalah menyedihkan dibandingkan bagian luar. Lantai dengan ubin abu-abu saat ini dipenuhi puing-puing dan sampah berserakan di mana-mana. Bagian dinding dan kusen pintu/jendela tampak kusam karena diselimuti debu juga sarang labah-labah, diperparah pula dengan gafiti para vandalis. Di bagian langit-langit terlihat banyak lubang menganga, sepertinya air hujan yang masuk dari celah genting bocor berperan besar menambah laju kerusakan bagian ini.

Sebenarnya bagian interior rumah ini—terlebih di bagian ruang utama— amatlah cantik. Tembok ruangan yang tinggi serasi benar dengan bentuk jendela dan juga pintu yang menghubungkan antar ruangan. Bagian atas pintu menuju ruangan utama dihiasi ukiran bermotif figur malaikat. Kolom-kolom dindingnya pun dihias di bagian kepalanya dengan hiasan bergaya klasik serta dipermanis dengan profil. Jarak lantai dengan langit-langit yang tinggi membuat suasana ruangan terasa sejuk. Rupanya kondisi seperti ini memang telah dirancang khusus untuk rumah-rumah Eropa di daerah tropis. Orang Belanda menyebut gaya rumah seperti ini dengan Indisch Woonhuis yang berarti Rumah Tinggal Hindia (Belanda). Aku rasa ruangan ini dahulu pasti dipenuhi perabotan artistik yang mahal harganya. Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama berada di ruangan ini dikarenakan atmosfir yang "tak nyaman" ditambah betapa repotnya harus melewati tumpukan puing dalam kondisi cahaya temaram, meskipun saat itu masih siang bolong.

Di dalam bukunya Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta, Adolf Heuken menuturkan bahwa rumah ini dibangun oleh David J. Smith antara tahun 1775 sampai tahun 1778 untuk menggantikan sebuah pesanggrahan sederhana. Pemiliknya adalah janda dari Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, seorang wanita kaya raya. Setelah wanita ini meninggal pada tahun 1787, Smith mewarisi rumah beserta perabotannya dan sejumlah perkebunan luas di sekitarnya. Akibat dari sebuah usaha spekulasi yang meleset akhirnya Smith harus rela melepaskan rumah beserta tanah perkebunan guna melunasi hutang-hutangnya itu. Rumah ini pun selanjutnya berganti-ganti pemilik. Rumah Cimanggis pernah mengalami kerusakan parah ketika terjadi gempa bumi dahsyat pada tahun 1834. Bukan hanya rumah ini yang mengalami kerusakan, tetapi juga rumah tuan tanah yang lain di sekitarnya termasuk Pondok Cina di Depok bahkan Istana Buitenzorg pun tak luput dari kerusakan.

Beberapa puluh tahun lalu Rumah Cimanggis ini pernah dijadikan rumah tinggal karyawan RRI, entah kenapa sekarang ditinggalkan kosong begitu saja. Melihat kondisinya sekarang aku kuatir ia akan bernasib sama seperti rumah-rumah tuan-tanah lainnya yang bertebaran di pelosok pinggiran Jakarta. Sebagian ada yang tinggal nama akibat digusur modernisasi kota seperti yang terjadi pada Pondok Gede atau Groeneveld di Tanjung Timur yang kini tinggal puing-puing belaka karena kebakaran hebat pada tahun 1985.

Selama berkeliling aku belum melihat papan pengumuman yang menyatakan gedung ini dilindungi, sehingga ada kemungkinan suatu saat akan begitu gampangnya digusur oleh pemilik modal. Sungguh sayang sebuah rumah tuan-tanah yang kebetulan saat ini masih tegak berdiri meskipun dengan kondisi compang-camping kelak di kemudian hari hanya tinggal nama, padahal tempat ini tentu menyimpan cerita masa lalu yang bernilai sejarah. Cerita tentang tuan-tanah yang rakus dan gemar memeras petani sekitarnya juga tentang nasib para budak yang terampas hak-hak asasinya. Semoga pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelestarian rumah tuan-tanah Cimanggis ini segera tersadarkan dan mengambil tindakan bijaksana.

Monday, May 25, 2009

Menikmati Kesejukan Ciwidey

Melupakan kesibukan dan rutinitas sehari-hari untuk sejenak melebur diri dengan alam yang asri, inilah tujuan utama acara jalan-jalan ini. Kebetulan pada Mei 2009 ini ada hari libur kejepit tanggal 21 yang jatuh pada hari Kamis sehingga cukup panjanglah waktu jalan-jalan kali ini. Direncanakan berangkat tanggal 20 malam dan pulang 23 pagi.

Penyelenggara sekaligus fasilitator acara ini adalah kantorku sendiri. Yah...gak usah heranlah memang ini acara kantor yang diperuntukkan buat seluruh karyawan, tanpa terkecuali setelah
cukup lama acara ini vakum. Terakhir kami melakukannya pada bulan Mei tahun 2003 di Puncak Pass.

Kali ini Ciwidey yang menjadi tujuan, dengan pertimbangan obyek wisatanya amat menarik, bukan hanya karena keelokan alam dan kesejukan udara pegunungan, juga karena tempat ini relatif lebih dekat dengan Jakarta. Jadi lebih mudah dijangkau dan tentunya akan menekan cost pengeluaran.

Kami berangkat hari rabu tanggal 20 Mei jam 20.30 dengan kekuatan 40-an personil dari Jakarta ke arah Bandung lewat tol Cipularang. Perjalanan mengalami hambatan sebelum masuk area 57 di jalan tol Jakarta-Cikampek karena ada truk mogok sehingga rombongan baru sampai Ciwidey sekitar jam 2 pagi.


Kami menginap di Patuha Resort yang terletak di lereng pegunungan Patuha dengan ketinggian sekitar 1200 meter dpl yang langsung disambut udara dingin menusuk tulang. Beruntung masing-masing telah dibekali dengan pakaian tebal yang cukup menghangatkan badan kami.

Pagi dini hari itu tidak banyak yang bisa aku lakukan kecuali hanya sekadar menghangatkan badan dengan minum minuman hangat yang telah disediakan pihak pengelola resort...selanjutnya membungkus diri dengan selimut di dalam kamar dan tidur. Sementara di luar masih banyak yang mengobrol sambil menunggu matahari terbit, mungkin.

Patuha Resort adalah komplek penginapan yang berada di lereng pegunungan, dengan dikelilingi vegetasi yang cukup lebat di bawah pengelolaan PT Perhutani III. Sepintas seperti terpencil dari lingkungan permukiman lainnya. Pemandangan di sekitar resort ini terlihat elok apalagi saat cuaca cerah.


Berkeliling mengitari resort ini yang tampak adalah suasana kehijauan pepohonan khas pegunungan seperti pinus misalnya.


Di lereng agak ke bawah terhampar perkebunan strawberry yang menjadi andalan para petani Ciwidey.


Bila berkenan, pengunjung bisa memetik sendiri buah strawberry dengan kisaran harga antara 25 ribu sampai 35 ribu rupiah per-kilonya. Dijamin para pemetik bisa memilih buah yang mereka inginkan. Waktu aku ke sana strawberry habis dipanen, sedangkan buah ini umumnya baru bisa dipetik lagi setelah 2 hari...sayang, ya!


Hari pertama di Patuha Resort diisi dengan aneka lomba yang kocak, konyol sekaligus mengundang tawa. Yah, namanya juga acara lucu-lucuan. Hadiahnya memang tak seberapa, tapi toh semua peserta tetap berusaha keras menjadi juara. Maklumlah, menjadi juara adalah sebuah prestise. Sebaliknya sungguh tak nyaman menjadi pecundang. Betulkah?


Hari berikutnya rombongan menuju Kawah Putih. Kami berangkat jam 9 pagi menuju tempat perhentian pertama. Bis kami harus berhenti di perhentian ini karena hanya kendaraan kecil yang boleh naik. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan mobil Mitshubisi pick-up yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sebagai angkutan wisata. Ongkos naik kendaraan ini sebesar 8 ribu rupiah/orang pulang pergi, sedangkan karcis masuk kawasan ini adalah 10 ribu rupiah/orang.


Jarak perhentian pertama dengan perhentian berikutnya sekitar 3 kilometer dengan kondisi jalan menanjak dan berliku. Di sini mulai terasa kalau suhu semakin dingin apalagi di dalam kendaraan setengah terbuka seperti ini.


Di samping kanan-kiri jalan terdapat tebing yang tertutup vegetasi lebat. Kendaraan harus tetap waspada apalagi jika berpapasan dengan kendaraan lain karena sempitnya badan jalan.


Beberapa menit kemudian sampailah kami pada perhentian ke dua di mana dari sini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Kawah Putih yang jaraknya sekitar 300 meter. Dari perhentian ini bau belerang sudah mulai tercium.


Tiba di bibir kawah, rombongan menuju sebuah "pulau" dan berfoto ria. Nah...ini menjadi sebuah bukti lagi bahwa pada dasarnya manusia adalah "homo narsistik" (manusia keranjingan foto).


Lokasi kawah putih ini sendiri berada di atas ketinggian 2194 meter dpl di area sekitar 25 Ha, dikelilingi pepohonan yang cukup rimbun. Suhunya berkisar 8 s/d 22 derajat Celcius, pastinya lebih dingin dibandingkan tempat kami menginap di Patuha Resort.


Beruntung sekali cuaca Kawah Putih dan sekitarnya cukup cerah sehingga permukaan kawah bisa terlihat dengan jelas. Padahal di sini kerap sekali tertutup kabut tebal yang menampakkan pemandangan serba putih sehingga menimbulkan kesan misterius dan angker.


Air berwarna putih kehijauan dikelilingi "pesisir" dengan pasir vulkanik berwarna ke abu-abuan terlihat kontras. Sementara di tepinya tampak endapan sulfur berwarna kehijauan menyatu dengan bebatuan.

Situs ini konon ditemukan pada tahun 1837 oleh seorang dokter sekaligus naturalis berkebangsaan Belanda keturunan Jerman bernama Franz Wilhelm Junghuhn yang tengah melakukan ekspedisi di Gunung Patuha.

Pada masa kolonial situs ini pernah dieksplorasi kandungan mineralnya, terutama sulfur. Bukti peninggalannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang berupa sebuah gua yang tidak jauh letaknya dari jalan masuk menuju kawah. Mulut gua saat ini dipalangi kayu agar tak dimasuki pengunjung, bahkan di depannya dipasang peringatan agar tidak berlama-lama berdiri di mulut gua. Entahlah apa maksudnya.



Kunjungan kami ke kawah Putih tidak berlangsung lama sebab kami harus kembali ke Patuha Resort buat menunaikan sholat Jum'at. Sorenya sebagian rombongan meneruskan acara lain, ada yang mencoba menaiki ATV sebagian lagi memilih main paint ball atau flying fox sedangkan aku lebih memilih bbs alias bobo-bobo siang karena kecapaian.

Keesokan harinya kami bertolak meninggalkan Patuha Resort menuju Bandung sekadar mencari oleh-oleh sekaligus jalan-jalan menikmati kota Bandung yang macet. Baru setelah itu rombongan kembali ke Jakarta dengan meninggalkan seribu satu kenangan yang tak terlupakan.

Sayang... banyak obyek wisata yang tak kalah menarik dibandingkan Kawah Putih, belum sempat kami datangi. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa kembali lagi ke mari untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat aku datangi seperti Situ Patengang, Ranca Upas dll. Tempat-tempat itu segera menjadi agendaku berikutnya.


Tuesday, May 19, 2009

Jalan Pemda Cibinong di Hari Minggu

Minggu pagi tanggal 17 Mei kemarin aku dan istri berangkat ke Cibinong untuk menengok rumah kami di daerah Cikaret. Sudah 2 minggu kami tidak ke sana karena berbagai kesibukan. Kebetulan hari itu ada janji ketemu dengan seseorang calon penyewa.

Satu hal yang membuatku malas bepergian adalah kemacetan di sekitar Stasiun Bojonggede yang sangat menjengkelkan. Kondisi jalan di situ sekarang sudah tak ada bagusnya sama sekali. Udah jalannya sempit dan berlubang-lubang, masih ditambah ulah tukang ojek yang memarkir motornya memakan 1/3 lebar jalan. Belum lagi angkot-angkot yang ngetem atau memutar seenaknya saja. Kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya penyeberang jalan yang hendak masuk maupun ke luar stasiun Bojonggede.

Sebenarnya ada 2 jalan alternatif untuk menghindari kesemrawutan lalu-lintas di sekitar sini tetapi kondisinya tidak jauh berbeda. Yang satu amat bergelombang dan yang satunya lagi dipenuhi polisi tidur. Jadi kalau dipikir-pikir percuma saja ada jalan alternatif.

Meskipun begitu kali ini aku memilih melalui Perumahan Bojong Depok Baru I atau yang lebih populer dengan sebutan "Gaperi". Jalan di dalam komplek ini lumayan mulus, kecuali ruas jalan di sekitar jembatan Sungai Ciliwung yang parah banget. Aku sempat melihat beberapa spanduk warga yang isinya ungkapan kekesalan atas kinerja Pemda serta pihak-
pihak yang bertanggung jawab terhadap kondisi jalan perumahan ini. Ah...ternyata di mana-mana sama saja problemnya ya.

Ke luar dari Komplek Perumahan Bojong Depok II, kami bertemu dengan Jalan Sukahati menuju Pemda Cibinong. Jalan ini jauh lebih ramai, dan lebih mulus dibandingkan jalan yang kami lewati sebelumnya. Kami mengambil arah kiri hingga bertemu dengan persimpangan traffic light Jalan Baru dan Jalan Pemda Cibinong. Biasanya aku lebih memilih jalan lurus lewat Situ Cikaret yang lebih sepi pada hari Minggu, entah kenapa kali ini aku mengambil arah ke kanan yang amat padat pada setiap Minggu pagi, iseng mungkin.

Sebenarnya ada apa dengan Jalan Pemda Cibinong di Minggu pagi?
Sekadar informasi saja kalau pada setiap Minggu pagi di sepanjang jalan ini diadakan "Pasar Kaget" yang menawarkan aneka rupa barang dagangan. Bisa dikatakan segala kebutuhan yang biasa dijajakan di pasar reguler bisa dijumpai di sini. Mulai dari makanan, buah-buahan, sandang, onderdil dan asesoris kendaraan bermotor, barang kebutuhan rumah tangga, kerajinan bahkan kredit motor pun tersedia di sini. Harganya pun bervariasi tergantung kepandaian kita menawar.
Inilah sebuah dilema yang dihadapi Pemda Cibinong dan mungkin juga pemda-pemda lain di Indonesia, di satu sisi ingin menggerakkan ekonomi warga tapi sisi lainnya harus mengorbankan kepentingan warga lain yaitu pengguna jalan yang harus rela antri bermacet ria.


Pada awalnya pasar kaget ini tidak seramai seperti sekarang. Paling hanya sepertiga ruas jalan yang dipakai, itu pun berada di jalur lambat. Sekarang hampir sepanjang ruas Jalan Pemda telah habis dipakai buat lapak pedagang. Bahkan aku lihat sudah ada yang mengokupasi jalur lainnya karena tidak kebagian lahan.

Padahal Jalan Raya Pemda atau nama resminya Jalan Tegar Beriman yang tebentang mulai dari pertemuan dengan Jalan Raya Bogor di sisi Timur sampai bertemu dengan perempatan Jalan Baru dan Jalan Sukahati di sisi Barat, sejatinya adalah jalan kebanggaan warga sekaligus landmark-nya kota Cibinong.


Di sini terdapat kantor-kantor penting milik pemerintah termasuk kantor Bupati Bogor. Jalan Tegar Beriman memiliki 4 lajur jalan yang lebar dan diteduhi oleh pohon-pohon penghijauan di masing-masing sisinya. Sungguh tidak berlebihan kalau ada yang bilang suasana di sini seperti "Champ Elysee" di Perancis. Amat disayangkan bila suatu saat nanti jalan ini kehilangan pesonanya, hanya karena kebijakan kurang tepat dari Pemda setempat.

Monday, May 18, 2009

Pura Bojonggede: Di dalam keterbatasan tersimpan kedamaian

Punya rumah sendiri adalah impian setiap orang yang telah berkeluarga. Makanya begitu acara serah-terima kunci rumah dari pengembang, rasanya seperti tak percaya kalau aku telah memiliki rumah sendiri. Seluruh emosi bercampur aduk tak karuan: ada haru, lega, bangga sekaligus sedih karena harus berpisah dengan para tetangga yang selama 2 tahun telah lebur dalam kebersamaan.

Kejadian itu telah lewat 15 tahun lalu, cukup lama memang...tapi kesannya masih amat terasa sampai sekarang. Bukan sebuah gedung megah yang berdiri di sebuah permukiman elit dan terpandang, rumah kami hanyalah bangunan seluas 21 meter persegi terletak di lingkungan pedesaan di pinggiran Bogor. Konon dulunya adalah bekas perkebunan karet milik PTP yang sudah tak produktif lagi.

Komplek permukiman ini dihubungkan oleh sebua
h jalan kecil sepanjang lebih dari 1 Km hingga bertemu dengan ruas jalan raya Bojonggede ke arah Parung. Jalan penghubung itu dulunya adalah jalan perkebunan yang biasa dipakai untuk mengangkut hasil perkebunan, selain untuk jalan pintas bagi penduduk sekitarnya.

Sekarang jalan kecil itu menjadi akses utama keluar-masuk dari dan menuju komplek. Sepanjang hari terutama pada jam-jam sibuk, kendaraan hilir mudik melewatinya. Akibatnya permukaan jalan tak pernah bisa mulus bahkan rusak sama sekali di beberapa bagian.

Bukannya tak ada upaya memperbaiki, tapi upaya perbaikan yang biasanya dilakukan dengan pengaspalan apa adanya selalu tak berumur panjang karena keterbatasan dana. Maklumlah komplek permukiman ini bisa diibaratkan anak ayam kehilangan induknya sejak pengembangnya pailit pada akhir 90-an padahal mereka belum menyerahkan fasum/fasos ke pemda. Hal ini selalu dijadikan alasan buat pemda mengelak dari tanggung jawabnya.


Beruntung masih ada pihak-pihak, terutama dari tokoh masyarakat setempat yang mampu menggerakkan potensi warga. Sedikit demi sedikit jalan rusak kini telah tertutup beton tebal dan cukup nyaman dilewati kendaraan. Memang diperlukan kesabaran dan pengorbanan yang tidak kecil untuk mewujudkannya karena dana yang dipergunakan sebagian besar dipungut dari warga sekitar.


Kanan kiri jalan masuk komplek terdapat lahan tidur milik beberapa instansi. Mereka seperti sengaja membiarkannya telantar hingga lahan itu ditutupi semak belukar dan alang-alang tinggi.

Bagi orang yang baru pertama melewatinya pasti tak akan menyangka kalau di ujung jalan ini
terdapat sebuah komplek permukiman. Berangsur-angsur lahan ini kini mulai dimanfaatkan dengan ditanami aneka tanaman palawija seperti singkong, jagung atau kacang tanah. Sebuah usaha yang patut mendapat Kalpataru barangkali?


Saat ini jika kita melewati jalan ke arah keluar dari komplek, akan terlihat dengan jelas pemandangan Gunung Salak atau Pangrango yang biru. Bahkan pada malam hari yang cerah kita bisa melihat kerlap kerlip lampu jalan menuju Puncak.

Kembali ke cerita rumah di atas, sekarang setelah 15 tahun berlalu, rumahku memang sudah lebih luas dari sebelumnya. Kebetulan rumah sebelah yang merupakan kopel dari rumahku pun telah menjadi milikku sehingga 2 anakku yang kini mulai menginjak remaja tidak terlalu merasa sempit tinggal di sini. Bahkan setelah kami mampu membeli rumah baru di Cibinong yang aku anggap lebih layak huni dibandingkan rumah pertama kami, toh anak-anak tetap tak bergeming buat pindah. Mungkin bagi orang lain lingkungan perumahan kami tak ideal sebagai tempat hunian, tapi bagi kami rumah ini adalah surga yang penuh kedamaian dan kenangan indah. Alasan yang simpel ya.