Showing posts with label jejak diri. Show all posts
Showing posts with label jejak diri. Show all posts

Monday, May 18, 2009

Pura Bojonggede: Di dalam keterbatasan tersimpan kedamaian

Punya rumah sendiri adalah impian setiap orang yang telah berkeluarga. Makanya begitu acara serah-terima kunci rumah dari pengembang, rasanya seperti tak percaya kalau aku telah memiliki rumah sendiri. Seluruh emosi bercampur aduk tak karuan: ada haru, lega, bangga sekaligus sedih karena harus berpisah dengan para tetangga yang selama 2 tahun telah lebur dalam kebersamaan.

Kejadian itu telah lewat 15 tahun lalu, cukup lama memang...tapi kesannya masih amat terasa sampai sekarang. Bukan sebuah gedung megah yang berdiri di sebuah permukiman elit dan terpandang, rumah kami hanyalah bangunan seluas 21 meter persegi terletak di lingkungan pedesaan di pinggiran Bogor. Konon dulunya adalah bekas perkebunan karet milik PTP yang sudah tak produktif lagi.

Komplek permukiman ini dihubungkan oleh sebua
h jalan kecil sepanjang lebih dari 1 Km hingga bertemu dengan ruas jalan raya Bojonggede ke arah Parung. Jalan penghubung itu dulunya adalah jalan perkebunan yang biasa dipakai untuk mengangkut hasil perkebunan, selain untuk jalan pintas bagi penduduk sekitarnya.

Sekarang jalan kecil itu menjadi akses utama keluar-masuk dari dan menuju komplek. Sepanjang hari terutama pada jam-jam sibuk, kendaraan hilir mudik melewatinya. Akibatnya permukaan jalan tak pernah bisa mulus bahkan rusak sama sekali di beberapa bagian.

Bukannya tak ada upaya memperbaiki, tapi upaya perbaikan yang biasanya dilakukan dengan pengaspalan apa adanya selalu tak berumur panjang karena keterbatasan dana. Maklumlah komplek permukiman ini bisa diibaratkan anak ayam kehilangan induknya sejak pengembangnya pailit pada akhir 90-an padahal mereka belum menyerahkan fasum/fasos ke pemda. Hal ini selalu dijadikan alasan buat pemda mengelak dari tanggung jawabnya.


Beruntung masih ada pihak-pihak, terutama dari tokoh masyarakat setempat yang mampu menggerakkan potensi warga. Sedikit demi sedikit jalan rusak kini telah tertutup beton tebal dan cukup nyaman dilewati kendaraan. Memang diperlukan kesabaran dan pengorbanan yang tidak kecil untuk mewujudkannya karena dana yang dipergunakan sebagian besar dipungut dari warga sekitar.


Kanan kiri jalan masuk komplek terdapat lahan tidur milik beberapa instansi. Mereka seperti sengaja membiarkannya telantar hingga lahan itu ditutupi semak belukar dan alang-alang tinggi.

Bagi orang yang baru pertama melewatinya pasti tak akan menyangka kalau di ujung jalan ini
terdapat sebuah komplek permukiman. Berangsur-angsur lahan ini kini mulai dimanfaatkan dengan ditanami aneka tanaman palawija seperti singkong, jagung atau kacang tanah. Sebuah usaha yang patut mendapat Kalpataru barangkali?


Saat ini jika kita melewati jalan ke arah keluar dari komplek, akan terlihat dengan jelas pemandangan Gunung Salak atau Pangrango yang biru. Bahkan pada malam hari yang cerah kita bisa melihat kerlap kerlip lampu jalan menuju Puncak.

Kembali ke cerita rumah di atas, sekarang setelah 15 tahun berlalu, rumahku memang sudah lebih luas dari sebelumnya. Kebetulan rumah sebelah yang merupakan kopel dari rumahku pun telah menjadi milikku sehingga 2 anakku yang kini mulai menginjak remaja tidak terlalu merasa sempit tinggal di sini. Bahkan setelah kami mampu membeli rumah baru di Cibinong yang aku anggap lebih layak huni dibandingkan rumah pertama kami, toh anak-anak tetap tak bergeming buat pindah. Mungkin bagi orang lain lingkungan perumahan kami tak ideal sebagai tempat hunian, tapi bagi kami rumah ini adalah surga yang penuh kedamaian dan kenangan indah. Alasan yang simpel ya.