Sunday, September 27, 2009

Catatan mudik lebaran 2009

Ribuan kendaraan bermotor berbaris mengular, membentuk antrian belasan bahkan puluhan kilometer panjangnya. Lebar jalan nyaris tak tersisa karena tertutup badan kendaraan membentuk 2 sampai 3 lajur berderet tak ada putusnya. Debu mengepul menutup pandangan mata juga menyesakkan dada akibat ulah pengendara motor bahkan mobil yang tak sabar antri yang melaju dari lajur kiri yang notabene berupa jalan tanah. Matahari tepat di atas kepala bersinar dengan garangnya memanggang tanpa ampun punggung bumi. Sementara sepotong awan menggantung malu-malu di langit biru tak kuasa menjadi payung bagi ribuan makhlukNya dalam perjuangan terakhir menaklukkan hawa nafsu di ujung Ramadhan yang suci ini.

Sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa berat bagi sebagian besar umat muslim dalam rangka mengekalkan tradisi mudik, pulang kampung untuk menjalin silaturahmi dengan kerabat dan handai taulan. Mereka bukan hanya harus mengalahkan diri sendiri, tetapi juga kondisi lingkungan sekitarnya yang sangat berat untuk ditaklukkan. Di jalanan ganas itu muncul hukum rimba yang purba­, siapa kuat dialah yang bertahan, siapa cepat dialah yang lebih dulu mencapai tujuan bahkan mungkin kecelakaan yang berujung kematian.

Itulah sedikit gambaran tentang mudik lebaran kali ini. Walau pun sesungguhnya sudah aku prediksi sebelumnya, tetapi kenyataannya sungguh di luar dugaan. Pemudik kali ini benar-benar tumplek di hari dan waktu yang sama dikarenakan lebaran yang mepet dengan hari terakhir masuk kerja. Tidak seperti tahun lalu yang lebih longgar karena jarak awal liburan dengan hari H-nya cukup panjang sehingga waktu mudik tak terkonsentrasi di waktu yang bersamaan. Pada lebaran kali ini nyaris tak ada jalur yang longgar baik yang lewat Utara (Pantura), tengah (Subang) maupun Selatan (Nagreg).

Saat merencanakan waktu keberangkatan, aku sempat meminta pertimbangan dari beberapa teman yang pernah memiliki pengalaman mudik sebelumnya. Seba
gian besar menyarankan untuk berangkat malam hari dengan pertimbangan umumnya para pengendara motor menghindari mudik pada waktu ini. Saran ini aku patuhi sehingga kami sekeluarga (aku, isteri dan 2 orang anak) berangkat hari Sabtu jam 1 dinihari menuju kampung halaman kami di Magelang, Jawa Tengah. Kelak terbukti ternyata teori di atas tidak berlaku sama sekali. Hampir sebagian pemudik sepertinya memiliki pikiran yang sama denganku, termasuk para pengendara motor yang sejatinya sangat ditakuti oleh mobil-mobil pribadi karena jumlahnya yang luar biasa banyak dan juga karena cara mengendara yang umumnya ugal-ugalan.

Pada awal perjalanan, kami tak mengalami hambatan berarti. Memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek mobil mampu melaju di atas kecepatan 80 km/jam. Baru setelah hampir mencapai ujung jalan tol ini laju mobil semakin tersendat. Kendaraan dialihkan melalui Sadang tidak keluar pintu tol Cikopo seperti biasanya karena menurut informasi jalur Pantura telah padat., bahkan kendaraan pribadi disarankan lewat jalur selatan melalui jalan tol Cipularang arah Bandung. Aku memutuskan mengubah rencana semula yang memilih jalaur Pantura, sekarang berubah jalur ke selatan lewat Nagreg melalui tol Cipularang. Ada sebuah firasat tak enak tiba-tiba menyergapku.

Menjelang subuh kami berhenti di sebuah rest area tidak jauh dari pintu tol Cileunyi. Kesempatan ini kami pergunakan untuk beristirahat dan melaksanakan kewajiban agama, yaitu shalat subuh. Buatku yang terjaga semalamam karena harus nyetir masih tersisa sedikit waktu buat tidur sejenak.


Menjelang jam 7 pagi, kami mulai meninggalkan rest area menuju pintu tol Cileunyi yang tinggal beberapa kilometer lagi jauhnya. Masya allah...lebarnya jalan tol ternyata telah dipenuhi kendaraan yang bergerak secara beringsut, sangat pelan menuju gerbang keluar. Dari informasi yang kudapat lewat radio, ternyata arah menuju pintu tol Cileunyi ini telah macet semenjak dini hari tadi. Mulai dari sinilah awal perjuangan berat seperti yang aku gambarkan di awal tulisan ini dimulai. Sebuah perjalanan panjang yang seperti tak berujung yang nyaris membuatku frustrasi bahkan ada keinginan untuk balik arah kembali ke rumah. Untung di sebelahku duduk seorang "navigator" yang selalu bersemangat memotivasi aku untuk maju terus.

Praktis sepanjang hari Sabtu itu kendaraan kami hanya bergerak sedikit demi sedikit dari Cileunyi menuju Cicalengka ke arah Nagreg yang berjarak sekitar 12 Km. Seperti mengalami de javu karena kami pernah mengala
mi kejadian yang sama beberapa tahun lalu di sini, hanya saja waktu itu ikut bersama kami seorang supir kantor yang hendak mudik ke Gombong sehingga kami seperti memiliki sopir gratisan...inilah yang disebut dengan simbiosis mutualisme, hubungan timbal-balik saling menguntungkan.

Kemacetan yang kami alami kali ini jauh lebih parah dibandingkan kemacetan di jalur yang sama beberapa tahun lalu. Waktu itu hanya Nagreg saja yang menjadi titik kemacetan, tetapi kali ini hampir sepanjang Cicalengka-Nagreg-Malangbong kendaraan hanya bisa bergerak dalam kecepatan berkisar 10 Km/jam bahkan mungkin kurang. Satu hal lagi yang membuat kendaraan amat tak nyaman dikendarai adalah kondisi jalan yang menanjak dan berliku-liku, sehingga banyak mobil dengan kondisi tak laik jalan terpaksa harus didorong menepi karena mogok. Alhamdulillah mobil kami baik-baik saja bahkan sampai balik ke Bogor pun, mobil tak mengalami gangguan yang berarti.


Kemacetan mulai terurai setelah melewati Malangbong memasuki daerah Ciawi. Kendaraan kami terus melaju menuju Rajapolah di daerah Tasikmalaya. Sepanjang jalan mata kami jelalatan mencari tempat untuk menginap karena waktu telah menunjukkan jam 9 malam. Rasanya terlalu berat buatku meneruskan perjalanan malam itu karena lelah mata dan tubuh sudah di atas batas toleransi. Daripada berisiko tinggi makanya kami putuskan mencari penginapan di sekitar sini saja.

Diiringi gema takbir bersahut-sahutan di sepanjang jalan yang kami lalui, kami terus mencari penginapan malam itu. Dari informasi seorang tukang parkir di depan Masjid Raya di jalan raya Rajapolah kami dapatkan keberadaan s
ebuah hotel di pinggir jalan raya arah Tasikmalaya. Hotelnya kecil, sekelas hotel melati lah tetapi suasananya amat tenang dan bersih. Malam itu kami tidur dengan nyenyaknya, bahkan suara takbir yang terdengar sayup-sayup tak putus-putusnya sepanjang malam semakin membuai kami larut dalam mimpi sampai subuh menjelang.

******************

Suara azan subuh membangunkanku. Aku segera bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kulirik istriku yang masih terbaring di tepi ranjang, ternyata ikut terbangun juga demi mendengar derit pintu kamar mandi terbuka. Sementara kedua anak kami masih terlelap tidur. Pagi itu setelah usai shalat subuh dan mandi, kami segera berkemas-kemas menuju
masjid guna melaksanakan shalat Iedul Fitri.

Sungguh sebuah lebaran yang aneh, tanpa sanak saudara maupun kerabat yang kami kenal, tanpa ketupat dan opor sebagai menu wajib lebaran bahkan tanpa hidangan apa pun dari hotel dikarenakan koki hotel pun ikut mudik lebaran. Kami berempat hanyalah musafir di tempat asing yang berada di tengah komunitas orang-orang yang tak kami kenal sama sekali.

Tempat shalat kami adalah sebuah masjid kecil di dalam sebuah komplek pondok pesantren dimana jamaah yang hadir sebagian besar adalah penghuni pondok ditambah beberapa penduduk lokal. Komplek ini letaknya beberapa ratus meter di belakang hotel menyeberangi suatu cekungan yang kupikir sebuah kali, ternyata adalah jalur kereta api. Suasananya terasa hening khas suasana pedesaan di daerah Priangan.

Ah iya... bukankah beberapa waktu lalu daerah sekitar Tasikmalaya ini yang paling parah terkena gempa? Ternyata memang benar...kami masih sempat melihat beberapa rumah retak-retak yang di depannya masih berdiri tenda darurat, bahkan pada saat perjalanan menuju Ciamis usai meninggalkan hotel ini masih sempat aku saksikan sebuah masjid yang menaranya telah runtuh sebagian menunggu benar-benar runtuh secara total.


Ditingkahi suara bedug yang ditabuh anak-anak kecil secara serampangan, shalat Iedul Fitri pun dimulai...tentu saja suara imam bersaing dengan bunyi bedug. Dan bunyi bedug ini masih berlanjut saat khatib menyampaikan khotbahnya...sangat tidak jelas terdengar. Kalaupun seandainya bisa terdengar dengan jelas tetap saja kami tak paham maksudnya karena khotbah disampaikan dalam bahasa Sunda. Hanya karena mengingat bahwa mendengarkan khotbah merupakan salah satu kesempurnaan shalat Iedul Fitri sehingga kami tak meninggalkan masjid lebih awal.


Ada hal aneh yang selama ini tak pernah aku jumpai di daerah asalku di Magelang maupun tempat tinggalku di Bojong Gede yaitu adanya beberapa buah meja yang diletakkan di sekitar masjid. Di atas meja tersaji hidangan berupa ketupat, kerupuk serta beberapa panci besar, barangkali isinya sayur berkuah semisal opor ayam. Aku rasa hidangan di atas meja itu khusus diperuntukkan buat acara makan bersama seusai shalat. Istriku dan anak perempuanku yang kebetulan mendapat tempat di dalam masjid pun mendapat tawaran makan bersama tetapi mereka menolaknya dengan halus. Bukan bermaksud menolak rejeki...hanya karena kuatir mengambil porsi para santri, itu saja.


Sesampainya di hotel, suasana telah sepi. Para penghuni hotel yang semalam ramai menginap sekarang hanya hanya tinggal satu-dua orang saja. Rupanya mereka bernasib seperti kami juga yang kelelahan di jalan dan memutuskan menginap barang satu malam. Begitu rasa lelah hilang mereka buru-buru meneruskan perjalanan menuju ke kampung halaman masing-masing, mungkin trauma dengan kemacetan kemarin. Tidak jelas apakah mereka sempat melaksanakan shalat Iedul fitri seperti kami apa tidak.


Tanpa mau berlama-lama, kami segera check-out dari hotel untuk meneruskan perjalanan menuju Jawa Tengah. Tujuan kami selanjutnya adalah Cilacap tempat kakak tertua istri menetap, dimana kebetulan beliau baru saja keluar dari RS karena menderita sakit.
Tidak lupa kami mampir dulu di sebuah rumah makan di daerah Rajapolah, Tasikmalaya, dan memesan nasi goreng buat sarapan pagi. Tanpa kami ketahui ternyata rumah makan ini pun menyediakan masakan khas Sunda berupa lalapan beserta ikan asin goreng dan aneka sambal yang kami sukai. Sayang kami telat mengetahuinya, tapi kami bertekad suatu saat nanti jika melewati tempat ini kami pasti akan mencobanya.

Matahari telah tergelincir di ufuk Barat tanda waktu telah memasuki Ashar ketika kami tiba di Cilacap. Di kota ini kami hanya menginap semalam saja, dan keesokan harinya pada hari Senin, 21 September pagi kami segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota kelahiran kami, Magelang.

******************

Kendaraan kami melintasi jalanan bergelombang sepanjang jalur yang menghubungkan kota-kota bagian Selatan Jawa Tengah menuju ke Timur. Jalan di sini umumnya datar dan lurus, hanya saja banyak tambalan di sana-sini sehingga tidak nyaman dilalui roda.
Sangat kontras kondisinya dengan jalan di Ciamis ke arah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah yang relatif mulus dan terawat, jalan di sini sepertinya kurang mendapat perhatian serius dari pemda setempat. Hal yang menarik adalah deretan para penjual dawet ayu yang menggelar dagangannya di sepanjang tepi jalan raya ini yang secara fisik bentuk dan warnanya amat seragam, dengan kuali tanah liat yang dikerudungi kain berwarna hijau cerah...entah apa maksudnya. Bagaimana pun juga kita tak tak perlu kuatir kehausan saat melewati ruas jalan ini.

Keluar dari dari kota Purworejo lewat jalan alternatif, aku melihat deretan pegunungan menjulang di Utara. Tiba-tiba kurasakan kerinduan yang amat sangat untuk segera tiba di kota kelahiranku Magelang... karena di balik deretan pegunungan itulah kotaku berada. Jalanan terasa sekali menanjak disertai beberapa tikungan tajam di kawasan Margoyoso, sebuah kawasan yang terkenal keangkerannya saat aku masih kecil. Dahulu memang sering terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa manusia di sekitar sini. Alhamdulillah aku bisa melewatinya dengan selamat.


Selepas waktu Ashar kami pun memasuki kota Magelang yang disambut sejuknya udara kota ini, sebuah suasana yang aku rindukan dimana pun aku berada. Kami menginap di rumah orang tuaku yang kecil dan tua, seperti wajah ibuku yang kini telah mengeriput di sana-sini dengan rambut yang memutih sempurna. Aku seperti diingatkan oleh waktu yang cepat berlalu..tanpa terasa, tahu-tahu kita semua telah menua...
Di tempat inilah aku menjalani masa kanak-kanak sampai menginjak masa remaja. Bagaimana pun kondisinya, masa lalu memang selalu indah untuk dikenang.

Pagi hari usai shalat subuh kami bertiga ( aku, isteri dan Ari ) memutuskan jalan-jalan menuju Taman Kyai Langgeng. Beberapa objek aku abadikan lewat kamera di HP anakku.
Diantaranya adalah berupa lukisan mural di sepanjang dinding di jalan... (ah aku lupa namanya) yang jelas dulu jalan ini bernama Singoranon. Ternyata seniman Magelang pun tak kalah kreatifnya dibandingkan seniman dari daerah lain.

Kami berjalan berbelok ke kiri melewati sebuah jalan bernama Raharjo terus belok kanan ke sebuah gang kecil, sebuah tempat dimana seorang sahabat kecilku dulu pernah tinggal di sini.
Kondisi dan suasananya nyaris tak berubah dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu, didominasi rumah berarsitektur tua dengan suasana nya yang sepi.

Melewati sebuah masjid yang hampir seluruh halamannya telah tertutup atap di bagian atasnya, kami berjalan sampai di sebuah sekolah yang amat melegenda di Magelang, SMA Negeri 1 Magelang dengan bangunan bertingkat yang masih kokoh berdiri hingga sekarang. Sudah begitu banyak tokoh penting negeri ini yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini.


Kami pun tiba di depan pintu masuk Taman Kyai Langgeng, sebuah tempat yang aku kenal betul bahkan sebelum tempat ini dibangun menjadi kawasan wisata yang cukup dikenal di mana-mana.
Dulu waktu kecil aku suka bermain di sini mencari tanah liat, mencari belut di sawah bahkan berkemah. Waktu itu tempat ini masih berupa sawah dengan beberapa pancuran mandi. Suasananya sepi dan wingit, maklum dekat dengan sebuah makam kuno yang konon adalah salah seorang tokoh pengikut Pangeran Diponegoro bernama Kyai Langgeng. Makam kuno ini sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Setelah puas menikmati pemandangan di depan taman, kami segera kembali ke rumah dengan tidak lupa melewati sebuah sekolah dasar yang penuh kenangan: SD Kemirirejo 1.
Jalan menuju sekolah ini membentuk sebuah koridor yang berujung pada sebuah pintu gerbang. Kondisi sekolah ini telah jauh berbeda dibandingkan saat aku dulu bersekolah di sini. Halamannya telah tertutup dengan paving block, sedangkan bangunannya sendiri sekarang telah menjadi dua tingkat, jauh lebih megah dan modern. Kabarnya sekarang SD Kemirirejo 1 & 2 telah digabung jadi satu bernama SD Kemirirejo 1. Beberapa memorabilia kawasan ini sempat aku abadikan, diantaranya adalah sebuah rumah yang dulu halamannya ditumbuhi sebuah tanaman sejenis jeruk yang sering dipetik secara iseng oleh anak-anak untuk mengilapkan kuku jari. Sayang sepertinya tanaman ini telah lama hilang dari rumah itu.

Siangnya kami putuskan berkeliling Magelang guna mengunjungi kerabat dengan tujuan silaturahmi. Sebelumnya kami mampir ke Makam Giriloyo yang terletak tepat di depan Kampus AKMIL. Di makam terbesar di kota inilah sebagian besar anggauta keluargaku beristirahat dengan damai, diantaranya adalah kakek, bapak dan 3 adikku.
Di komplek pemakaman ini terlihat tidak ada pemisahan yang jelas antara makam muslim dan non muslim, semuanya menyatu tanpa ada jarak, apalagi sebagian makam Kristen yang sekarang jadi pertokoan di jalan Ikhlas pun telah dipindahkan kemari.

Ada sebuah makam terkenal yang sampai sekarang masih sering ramai diziarahi. Itulah makam seorang pesohor yang namanya identik dengan film-film Indonesia bergenre mistik dan horor, dialah Suzanna.
Uniknya, makam ini terdiri dari 3 makam yang disatukan yang terdiri dari makam Suzanna sendiri, anak lelaki yang kabarnya tewas terbunuh dan seorang kakak perempuan Suzanna. Sayang untuk sebuah makam seorang artis besar sekaliber Suzanna cara penulisan epitafnya masih sederhana yaitu dengan cara dicat. Padahal seandainya dibuat dengan sistem pahatan seperti gaya makam Belanda kuno, barangkali hasilnya akan jauh lebih artisik.

Hari itu kami menginap semalam lagi dan pada keesokan hari kami berkemas-kemas menuju Semarang untuk mengunjungi rumah paman sekaligus mampir ke rumah baru adik iparku yang baru saja pindah dari Makassar. Cukup lama kami menunggu kedatangan saudara ipar di Magelang. selepas Ashar barulah mereka tiba.
Kami pun segera menuju ke makam almarhum bapak mertua di daerah Cacaban untuk nyekar, dilanjutkan bersilaturahmi ke rumah tetangga kanan kiri rumah mertua yang sekarang telah dikontrakkan, padahal rumah inilah yang dulu jadi base-camp kami selama di Magelang.

Pada Kamis pagi setelah menginap semalam di rumah adik ipar (adik bungsu isteriku) kami pun berangkat meninggalkan Semarang untuk kembali ke Bogor. Berbeda saat perjalanan mudik ke Jawa Tengah, perjalanan kami saat itu amat lancar tanpa ada hambatan apa pun. Bahkan kami tiba di rumah sebelum Maghrib, sebuah catatan tersendiri buat kami tentunya karena selama ini kami selalu tiba selepas Isya. Ah sebuah bentuk keseimbangan yang Allah ciptakan buat kami: menderita di awal tetapi manis di akhir...Allah memang Maha Adil! Segala kepenatan dan rasa frustrasi di awal perjalanan seperti terlupa saat kami tiba dengan selamat di rumah.


Magelang, tunggulah kunjungan kami berikutnya...

Monday, September 14, 2009

Dan ketika kenangan itu




:untuk sahabatku, EmWei

Gang kecil lengang
tak bosan menanti
entah pada siapa
rindu dialamatkan

Sebuah jalan berundak ke arah masjid
dan rumah tua di mana tinggal gadis belia
merajut hari di antara cinta dan bunga-bunga
juga burung-burung gereja
yang sesekali hinggap di beranda

Lalu rekahlah seulas senyum
di ranum kelopak gladiol
dan sebuah percakapan panjang
yang tak terucapkan
tentang masa lalu yang lindap

Sahabat kecilku,
aku percaya sebagian jiwa telah kau titipkan di sana
bersama dentang mengalun lonceng sekolah
bersama derap kaki-kaki kecil di rumput basah

Dan ketika kenangan itu terpaksa kau tanggalkan
dari sebuah tempat yang mewariskan kasih sayang
aku sadar, hanya itu yang bisa kutulis tentangmu
lewat puisi ini, sebagai lambang persahabatan abadi

Nun di sana, dalam kedamaian sebuah rumah
ada wanita dewasa bersama cintanya
di antara bunga-bunga dan barangkali burung gereja
yang sesekali hinggap di beranda

'tuk menjenguknya

(Jakarta, 18/09/09)

Thursday, September 3, 2009

Belajar dari ilalang

Bulan Juli yang baru lalu genap 15 tahun sudah aku tinggal di Pura Bojong Gede. Lima belas tahun sebenarnya bukan waktu yang pendek. Namun kenangan saat boyongan ke tempat ini masih terbayang jelas di kepala. Kegiatan boyongan yang terpaksa kulakukan karena masa kontrak rumah yang kutempati habis. Untungnya rumah baruku sudah siap ditempati, meski dengan segala keterbatasan. Gak ada dapur, gak ada listrik, gak ada tetangga dan sepanjang malam tidur diiringi nyanyian jangkrik serta desau angin musim kemarau, tapi hidup terasa indah seperti lantunan lagu 'What a Wonderful World'- nya Louis Armstrong yang setiap saat mengalun dari tape bututku. Beruntung pula aku memiliki seorang istri yang sabar dan tabah yang hampir setiap hari aku tinggal sendirian di rumah tanpa rasa takut ataupun mengeluh.

Hanya berbekal perabotan seadanya—karena memang hanya benda-benda itu yang kupunya—aku memulai babak baru di sini. Tinggal di tempat terasing nun jauh di pelosok sana. Sebuah pinggiran kota Bogor yang dikelilingi padang prairie. Hah, prairie? Kayaknya lebih tepat disebut padang ilalang, deh! Prairie jauh lebih eksotis dan indah, pastinya.
Tapi justru padang ilalang itulah yang memberiku sebuah inspirasi. Sebuah renungan tepatnya.

Orang Betawi bilang 'tempat jin buang anak', untuk menggambarkan tempat tinggalku yang terpencil, jauh dari keramaian. 15 tahun kemudian tempat ini bukan lagi tempat 'jin buang anak' , tapi jadi tempat 'anak jin buang bapak'. Boleh jadi karena banyak manula yang 'dibuang' di sini oleh anak-anaknya. Sementara anak-anak para manula ini sibuk dengan urusan masing-masing dan tentu saja lebih memilih tinggal di kota.

Satu hal yang tak berubah di tempat itu adalah padang alang-alang tadi.
Sepanjang jalan masuk permukiman yang terlihat hanyalah rumpun ilalang dan ilalang. Nyaris tetap sama dibandingkan saat 15 tahun lalu pertama kali kujamah tempat ini.
Kalau saja rumpun ilalang ini adalah ladang gandum atau padi-padian yang bisa dikonsumsi manusia, pastilah cukup buat makan orang sekampungku selama berbulan-bulan tanpa harus bersusah payah menanamnya. Tapi ia hanyalah tanaman yang nyaris tak berguna. Bahkan kehadirannya justru dibenci manusia. Ajaibnya tanpa ditanam, tanpa dipupuk, tanpa dirawat, ilalang ini tumbuh dengan suburnya. Sementara lebih sering kita mendengar keluhan para petani yang gagal panen meski segala cara telah diupayakan untuk memaksimalkan hasil panenannya. Ironis memang.

Pelajaran moral yang bisa dipetik adalah hidup mesti diperjuangkan. Tak mungkin dengan ongkang-ongkang kaki manusia mampu mencukupi kebutuhannya. Tuhan menyediakan sarananya, manusia mengolahya menjadi sesuatu yang berguna buat kelangsungan hidup mereka. Semak belukar, padang ilalang harus diubah jadi ladang-ladang subur yang bisa menghasilkan makanan. Dan semua itu harus dilakukan dengan kerja keras dan keteguhan hati. Tanpa itu semua mustahil kehidupan sejahtera tercapai.
Andai saja kita mampu memahami isyarat-isyarat ini, mungkin krisis yang menimpa bangsa kita tak akan sedahsyat saat ini. Tuhan mengajar manusia lewat apa saja. Isyarat-isyarat itu ada di sekeliling kita. Tak terkecuali lewat rumpun ilalang yang nyaris tak berarti.

Wednesday, July 29, 2009

Penipuan Berkedok Casting Sinetron

Senin malam sesaat setelah tiba di rumah sehabis lelah bekerja seharian, aku merebahkan punggung yang pegal di sandaran kursi sambil menikmati segelas teh hijau hangat. Sementara kedua anakku dan ibunya asyik dengan kegiatan masing-masing. Ari asik main gitar di kamar, sedangkan Ratri dan ibunya lebih suka nonton TV.

Tiba-tiba Ratri menghampiriku dengan ekspresi penuh harap, aku hapal banget dengan ekspresinya ini...pasti ada maunya.

"Pak, tadi siang sehabis pulang sekolah adik ditawarin sama orang untuk jadi figuran di sinetron, boleh nggak...boleh ya?" Begitu rengeknya membuka percakapan kami.

"Hah...main sinetron? Gak salah, dik...main sinetron itu tak semudah yang kau kira...syaratnya ketat dan mereka tak gampang mengambil orang sembarangan. Terus, siapa yang ngajak kamu?" Tanyaku dengan perasaan lumayan kaget dan penasaran.

"Seorang mbak-mbak..."

"Kamu kenal dia?"

"Tidak..."

"Kalau tidak kenal kenapa kamu percaya?"

"Soalnya temen-temen adik juga diajak... besok setelah jam sekolah, orangnya mau motret kami dulu sebelum syuting."

Instingku sebagai orang tua langsung muncul begitu mendengar penuturan anak gadisku yang tengah beranjak remaja ini. Ada beberapa hal yang membuatku curiga, sepertinya ada maksud tertentu di balik ajakan yang amat menggiurkan itu. Dengan panjang lebar kujelaskan padanya dan tentu saja dengan menjabarkan beberapa kemungkinan yang terjadi jika dia memenuhi ajakan orang yang tak dikenal.

Sungguh aku dibuat risau dengan sikap anak gadisku semata wayang ini yang belakangan cenderung semaunya, keras kepala dan mudah ngambek apabila yang dikehendaki tak dituruti. Kata-kata wejangan yang diucapkan orang tua sampai berbuih-buih pun terkadang hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Rupanya sebelum minta ijin kepadaku ia telah merayu ibunya terlebih dulu. Seperti sudah bisa ditebak, pendapat ibunya pun ternyata sama dengan bapaknya. Ya iyalah...mana ada sih orang tua yang mau anaknya celaka?

Obrolan malam itu pun akhirnya diakhiri gerutuan anakku dan bunyi pintu kamar dibanting. Ya Allah...mudah-mudahan Kau luaskan kesabaran kami dan Kau bukakan mata hati putri kami.
Dan malam pun kian larut dalam hening.

***********


Pagi harinya semua berjalan seperti biasa, sebuah rutinitas yang selalu kami jalani setiap hari. Kedua anakku mencium tangan bapak ibunya berpamitan hendak berangkat sekolah. Ari saat ini duduk di kelas X SMA Negeri 2—rupanya tengah menikmati kebanggaan menjadi bagian "the putih abu-abuers"—sedangkan Ratri masih duduk di kelas VIII SMP Negeri 6. Ekspresi wajahnya tak menampakkan sisa kekesalan tadi malam. Kami berdua pun melepaskan keberangkatan mereka dengan senyum. Semoga saja petuah-petuah yang kami berikan tadi malam ada manfaatnya.

Sore hari sehabis ashar, henponku yang tergeletak di atas meja kerja berbunyi. Suara ibunya anak-anak dari seberang sana.

" Assalamualaikum...pak, koq si Ratri belum pulang juga ya? Jangan-jangan dia ikut ajakan orang itu..." Ada nada kuatir dari suaranya.

Deg...jantungku serasa berhenti berdetak. Kulirik jam di komputerku menunjukkan pukul lima lebih. Biasanya tak sampai selarut ini Ratri berada di sekolah, sementara henponnya ia tinggalkan di rumah dalam keadaan baterai habis. Ibunya yang bermaksud menghubungi teman-teman sekolah yang tercatat di henponnya pun mengalami kesulitan membukanya, sedangkan aku masih berada di kantor. Dalam kondisi seperti ini hanya doa yang bisa kami panjatkan semoga anakku baik-baik saja.

Waktu bergulir, sore pun mendekati ambang senja...sebentar lagi adzan maghrib dikumandangkan. Di puncak ketegangan yang kurasakan, mendadak henponku berbunyi lagi...suara ibunya anak-anak lagi.

" Assalamualaikum...anaknya udah pulang nih pak. Panjang sekali ceritanya...nanti aku ceritain di rumah aja..."

Cesss...jantungku mendadak dingin serasa disiram air. Meskipun begitu hati merasa tak tenang dan penasaran dengan apa yang dialami anakku tadi ditambah perasaan jengkel karena omonganku yang tak dipatuhi. Setelah shalat Maghrib kuputuskan segera berkemas dan pulang.

Jam setengah sembilan malam aku tiba di rumah. Kulewati kamar anak perempuanku yang tertutup rapat, sepertinya ia ketakutan dan merasa bersalah sehingga lebih memilih mengurung diri di kamar. Dari penuturan isteriku baru aku tahu cerita sebenarnya meskipun tak selengkap bila keluar dari mulut anakku sendiri.

Ceritanya si Ratri dan gengnya (kalau tidak salah berlima) diajak wanita itu ke sebuah tempat pencetakan foto yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Mereka diminta meminjamkan hp dan kamera (kebetulan ada seorang anak yang membawa kamera digital pinjaman) buat memotret masing-masing anak. Yang mengherankan si perempuan ini memiliki hp canggih (mirip BB) tapi kenapa justru meminjam hp anak-anak yang kualitasnya masih di bawah miliknya. Bahkan perempuan itu menolak menerima foto cetak yang dibawa seorang anak dengan suatu alasan yang dibuat-buat.

Pada sebuah sesi pemotretan di mana anak-anak ini disuruh rebah di lantai dengan posisi miring membelakangi kamera. Kesempatan itu dimanfaatkan si perempuan untuk kabur dengan membonceng sepeda motor RX King yang ternyata telah menunggu di luar. Dengan demikian berakhirlah acara casting pura-pura ini. Kini tinggal sekelompok anak perempuan dengan seribu penyesalan, sadar telah kena tipu perempuan tadi. Sebuah henpon dan sebuah kamera digital melayang di depan mata mereka.

Kejadian ini telah dilaporkan ke polisi oleh orang tua salah seorang murid. Untuk itu anak-anak harus jadi saksi di kantor polis, akibatnya semua anak pulang terlambat. Si Ratri sempat menghubungi rumah untuk memberi tahu ibunya tapi karena rumah kosong jadi tidak ada yang mengangkat telepon. Kenapa tidak nelpon bapaknya di kantor? Jawabannya simpel, tentu saja karena dia takut dimarahi gara-gara telah mengabaikan omongan bapaknya.

Aku melihat ada sebuah pergeseran cara anak-anak generasi sekarang menatap masa depan. Sebuah pencapaian (baca: prestasi) yang dilewati dengan suatu proses yang membutuhkan usaha dan keseriusan mulai ditinggalkan. Mereka lebih menyukai jalan pintas—segala sesuatu yang dicapai secara instan. Dalam hal ini pengaruh media masa amat besar, terutama televisi. Media ini ikut bertanggung jawab menciptakan generasi hedonistik, dimana segala hal diukur dengan kebendaan. Bagi anak-anak yang baru berkembang secara fisik dan emosional, mereka mudah sekali dipengaruhi. Kondisi seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penipu yang tahu benar psikologi anak remaja.

Kami sebagai orang tua merasa beruntung anak-anak telah kembali dengan selamat. Apa jadinya kalau mereka mengalami hal-hal yang kami takutkan misalnya penculikan yang saat ini tengah marak di kalangan anak usia sekolah, lebih jauh lagi mengalami trafficking, suatu bentuk perdagangan manusia...naudzubillahimindzalik!
Semoga saja pengalaman ini bisa menyadarkan anak perempuanku agar lebih berhati-hati melangkah menuju kedewasaan.

Monday, July 27, 2009

Curhatan Seorang Penglaju

Pagi itu, waktu menunjukkan jam delapan kurang dua menit, angkot yang kunaiki merayap memasuki jalanan di sekitar stasiun Bojong Gede yang rusak dan macet. Seperti inilah suasana sehari-hari di sini, serba semrawut karena angkot dan ojek pada ngetem sembarangan di tempat yang tak semestinya. Kondisi jalannya pun, minta ampun...sempit dan berlubang-lubang lebih pantes buat angon bebek. Sungguh mengherankan, kondisi jalan sudah separah itu tapi belum ada tanda-tanda mau diperbaiki.

Terdengar klakson KRL melintas dari arah Bogor memasuki stasiun Bojong Gede, tanp
a berpikir panjang aku turun dari angkot terus berlari menuju stasiun (tentunya setelah bayar ongkos). Ini kulakukan untuk menghemat waktu daripada harus nungguin angkot masuk terminal dulu.

Dengan nafas ngos-ngosan sampailah aku di peron stasiun dan hampir saja nabrak orang yang antri tiket. Mendadak lututku melemas saat melihat KRL ekonomi itu berlalu meninggalkan stasiun dengan suara klaksonnya yang panjang membahana. Meninggalkan diriku dengan mulut melongo sambil menatap pantat kereta itu menjauh kemudian lenyap di tikungan. Sungguh keterlaluan... tak memahami perasaan orang yang mati-matian mengejarnya umpatku dalam hati. Jam menunjukkan pukul delapan lewat dua menit. Kekecewaanku pertama pagi itu.

Langkahku terasa berat menyusuri sepanjang peron stasiun. Biasanya mata suka jelalatan kemana-mana mencari penampakan yang bening-bening dan wangi-wangi. Tapi kali ini otakku lagi males berfikir ke arah sana. Meskipun kecewa, aku pendam perasaan itu dan berharap semoga kereta berikutnya segera tiba

Ting tong ting tong...suara dari pengeras suara stasiun mengumumkan posisi KRL berikutnya. Suaranya bersaing dengan suara pengajian dari masjid seberan
g. "Mohon perhatian...KRL ekonomi jurusan Jakarta yang berangkat dari stasiun Bojong Gede pukul 08.15, hari ini keretanya DIBATALKAN berhubung rangkaiannya mengalami gangguan". Gubraaaaakkk...!!! Atap peron serasa runtuh menimpa kepalaku.

Aku menyumpah semampuku (lagi-lagi hanya di dalam hati)...KRL y
ang diharapkan bisa jadi pengobat kecewa malah membuat kekecewaanku semakin bertumpuk . Inilah kondisi KRL kita itu teman. Setiap hari ada saja kereta yang dibatalkan. Kalau pun jalan, bisa dipastikan cuma 1 set rangkaian yang terdiri cuma 4 gerbong. Padahal untuk menunggu kereta ini butuh waktu lebih dari 1 jam setelah kereta-kereta "terhormat" (Ekspres AC dan Ekonomi AC) dipersilakan jalan duluan. Inilah kekecewaanku yang ke-dua pagi ini.

Mungkinkah ini taktik dagang dari PT KAI untuk secara pelan-pelan mengkondisikan para penumpang berpindah ke kereta AC kemudi
an mematikan kereta ekonomi sama sekali? Bukan bermaksud suudzon sih, tapi rasanya analisa ini cukup masuk akal. Terlebih lagi jauh hari sudah terdengar kabar burung kalau PT KAI bakal menghapus KRL ekonomi. Aku jadi bertanya dalam hati bagaimana nasib para pedagang tangga dan bangku-bangku kerajinan dari bambu yang setiap hari memanfaatkan jasa kereta murah dan merakyat ini? Masihkah mereka diperbolehkan mengangkut barang-barang bervolume besar itu ke dalam KRL ber-AC, seandainya KRL ekonomi benar-benar dihapuskan?

Aku perhatikan sejak PT KAI Divisi Jabotabek bertranformasi menja
di PT KAI Commuter, kondisi per KaErEl-an bukannya semakin rapi malah jadi acakadut. Ada saja gangguan setiap hari. Banyak kereta tua dipaksakan jalan sehingga berakibat mogok dan mengganggu kelancaran perjalanan, karena jadwal terganggu penumpang jadi menumpuk, karena penumpang menumpuk KRL jadi penuh sesak, karena membawa beban melebihi kapasitas KRL jadi sering rusak dan mogok. Begitu seterusnya, berputar seperti lingkaran setan. Sejauh ini belum ada upaya signifikan untuk mengatasinya, misalnya dengan mengganti KRL yang lebih fresh. Bukankah selama ini PT KAI sering mendapat hibah KRL bekas dari Jepang? Kenapa kereta-kereta itu lebih diprioritaskan untuk KRL ekonomi AC dan Ekspres? Terlihat sekali kalau PT KAI Commuter pilih kasih.

Setiap jam-jam sibuk (saat pagi dan petang hari) penumpukan penumpang terj
adi hampir di semua stasiun. Pindah ke KRL ekonomi AC? Setali lima uang (biar gak bosen tiga diganti lima) alias sama aja atau malah lebih parah. Dalam kondisi gerbong penuh sesak dan pintu tertutup, dinginnya air conditioner pun sudah tak berpengaruh sama sekali. Gerbong jadi pengap karena penuh karbon dioksida akibatnya dada rasanya sesak buat bernafas. Aku pernah mengalami kondisi seperti ini bahkan nyaris pingsan.

Silakan dipikir...kalau naik kereta bertarif Rp 5.500,- saja kita masih belum mendapatkan pelayanan yang memadai, bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita yang hanya mampu naik KRL ekonomi bertarif Rp 1.500,- sampai Rp 2.500,-?
Nasib para penglaju (baca: commuter) memang tak pernah berubah da
ri dulu meskipun pengelolanya berganti-ganti nama dan bentuk.

Tak bisa dipungkiri masih banyak penumpang KRL ekonomi yang tak b
eli tiket. Kelakuan mereka ini boleh jadi dipengaruhi sikap pengelola KRL sendiri yang tak tegas bertindak, bahkan sering terkesan permisif atau barangkali malah takut? Parahnya lagi lantas digeneralisasi kalau penumpang KRL ekonomi pada umumnya tak beli tiket. Padahal yang disiplin membeli tiket dan kartu abunemen pun tak kalah banyaknya. Kalau saja mereka lebih tegas dan berani mengambil sikap, pastilah alasan merugi yang suka digembar-gemborkan para pemegang otoritas perKaErElan itu takkan terdengar lagi.

Kulirik jam tanganku, menunjukkan pukul sembilan kurang tujuh menit. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya KRL yang ditunggu pun tiba. Kondisinya jangan ditanya lagi...penuh sesak sampai banyak penumpang yang duduk di atap. Kalau udah begini masalah keselamatan diri cuma jadi prioritas ke sekian, pokoknya bisa sampai tujuan aja udah bersukur. Dengan mengerahkan segenap tenaga aku berhasil masuk ke dalam gerbong yang pengap.

Sebenarnya bisa saja kuputuskan naik KRL ekonomi AC yang berangkat duluan seperti yang biasa kulakukan setiap kali terjadi masalah seperti ini. Kali ini aku berusaha tidak tunduk pada taktik dagang pengelola KRL terlebih hatiku sudah kesal banget...biarlah telat sekalian.

Aku memilih posisi di dekat sambungan gerbong dengan harapan mendapatkan tempat lebih lega. Perkiraanku meleset ternyata posisi ini telah "dikuasai" segerombolan orang yang dengan santainya duduk lesehan tak peduli sama penumpang lainnya yang rela berdiri dan menahan dorongan dari arah luar agar tak ambruk menimpa orang-orang yang sedang "tahlilan" ini. Di KRL ekonomi terlhat sekali karakter umum orang Indonesia yang komunal, artinya lebih senang berkelompok dalam sebuah komunitas. Mungkin ini sebuah upaya mereduksi segala tekanan hidup ya? Karena penumpang KRL umumnya memang bukan dari golongan yang serba berkecukupan.

Jam sepuluh lebih tiga menit aku sampai di kantor. Sejam yang lalu, janji dengan seorang teman sudah aku batalkan. Meski dengan perasaan tidak enak dan malu dengan teman-teman yang udah datang lebih pagi, kupaksakan juga untuk bersikap wajar saja...toh mereka juga tak akan bertanya macam-macam. Gara-gara KRL semua yang aku jadwalkan pagi itu berantakan...inilah kekecewaanku ke-tiga kalinya.

Sungguh tak nyaman jadi seorang penglaju (baca: commuter). Ini bukan pilihan hidup tapi sebuah keterpaksaan, apalagi harus menggantungkan diri pada sebuah moda transportasi bernama Kereta Rel Listrik (KRL) ekonomi yang para pengelolanya tak pernah berpihak kepada kami, para penumpang kelas teri.

Thursday, July 9, 2009

Jalan Raya Bogor: Sepenggal Kisah Masa Lalu

Siang itu matahari bersinar dengan garangnya. Kereta kuda van Riemsdijk berjalan tertatih menyusuri jalan tanah bergelombang menuju rumahnya di Tandjong Oost. Debu tebal mengepul di belakang roda yang berputar menimbulkan suara berderak. Di depan sana, dari jarak cukup jauh ia melihat sebuah kereta lainnya berhenti membentuk siluet bergoyang akibat fatamorgana.

Van Riemsdijk memacu kudanya dan berhenti di belakang kereta mogok itu. Setelah memarkir kereta di bawah sebuah pohon asam yang rindang, ia turun dan berjalan menghampiri. Ia melihat seseorang berjongkok memeriksa roda kereta yang patah asnya, seseorang lainnya berdiri di sebelahnya sambil berkacak pinggang dengan raut muka kesal dan bibir yang tak berhenti menyumpah. Laki-laki itu memakai baju dan topi mirip dengan yang dikenakan Kaisar Napoleon dari Prancis.

Melihat penampilannya, van Riemsdijk langsung yakin kalau lelaki ini pastilah Marsekal Herman Willem Daendels yang sedang dalam perjalanan menuju Buitenzorg. Tanpa membuang waktu lagi ia lantas memberi hormat dan menyapanya dengan ramah.

Sejurus mereka saling bercakap, selanjutnya setelah tahu duduk persoalannya, van Riemsdijk menawarkan kereta kudanya sebagai ganti kereta Daendels yang mogok itu. Dengan senang hati Daendels menerima tawaran van Riemsdijk sambil berkata: " Ah tuan sungguh sopan sekali, padahal saya berfikir kalau pun seandainya tuan tidak menawarkan kereta ini, pastilah saya akan mengambilnya begitu saja. Baiklah tak jadi soal, betapa pun juga saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan tuan." Setelah itu Daendels meninggalkan van Riemsdijk yang berdiri terpaku memandang keretanya bergerak meninggalkannya sendirian di tengah jalan, kemudian lenyap dari pandangan mata.

Sekarang giliran van Riemsdijk—keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda: Jeremias van Riemsdijk (1712-1777) yang kebingungan tak tahu dengan kendaraan apa ia pulang ke Groeneveld, rumahnya di Tandjong Oost (Tanjung Timur, dekat Condet). Padahal Groeneveld jaraknya masih beberapa pal dari tempatnya berdiri ini. Akhirnya tuan-tanah yang berbadan tambun ini memutuskan pulang dengan berjalan kaki di tengah teriknya matahari.

Itulah sebuah fragmen kisah masa lalu dari ribuan kisah lainnya yang pernah terjadi di sebuah jalan raya yang sekarang bernama Jalan Raya Bogor. Sebuah jalan yang dahulunya merupakan akses utama dari Batavia ke Buitenzorg. Namun dengan dibukanya jalan tol Jagorawi, lambat laun peran jalan ini pun tergantikan meskipun tak mengurangi volume kendaraan yang lalu-lalang di atasnya.

Dahulu untuk mencapai Buitenzorg dari Batavia diperlukan waktu sekitar 4 jam melewati jalan ini (seperti diceritakan Gustaaf Willem van Imhoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintah dari 1743 sampai 1750). Bahkan Marsekal Herman Willem Daendels pernah tak bisa mencapai Buitenzorg dalam waktu 1 hari karena kondisi jalan yang buruk dimana banyak sungai meluap hingga menyebabkan jalan yang dilewati bagaikan rawa-rawa.

Pada KM 34 terdapat Pasar Cimanggis, sebuah tempat yang dahulu dimiliki oleh tuan tanah yang rumahnya terletak tidak jauh dari sini. Tempat ini jaman dulu merupakan pos perhentian bagi orang-orang yang tengah melakukan perjalanan ke Buitenzorg atau Tjipanas. Di sini orang bisa beristirahat sejenak sambil mengganti kuda-kuda mereka dengan kuda yang lebih segar kondisinya (seperti lukisan Johannes Rach di bawah). Maklum perjalanan ke Buitenzorg bukanlah hal yang mudah dikarenakan kondisi jalan yang buruk waktu itu.

Kondisi Jalan Raya Bogor saat ini memang sangat jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Di kanan kirinya telah penuh dengan bangunan-bangunan baru dengan peruntukan sebagai rumah pribadi, kantor, pabrik maupun toko-toko. Kalaupun masih ada yang bisa dijadikan penanda masa lalu, itu adalah pohon-pohon asam tua yang masih tumbuh beberapa buah berderet di sepanjang jalan ini. Disamping itu masih ada satu-dua rumah besar milik bekas tuan-tanah yang masih berdiri menunggu runtuh secara perlahan karena sikap generasi sekarang juga penguasa yang tak peduli lagi dengan sejarah dan masa lalunya. Sungguh menyedihkan.

Sumber foto:
• Wikipedia-Daendels (lukisan Raden Saleh)
• Rijksmuseum.nl - lukisan Johannes Rach

• Koleksi pribadi

Tuesday, July 7, 2009

Rumah tuan-tanah Cimanggis

Setiap hari Minggu selama 2 bulan ini aku hilir mudik melintasi jalan antara Bojong Gede—Cibinong—Gandaria guna mengikuti suatu kegiatan. Kesempatan ini sekaligus aku pergunakan untuk jalan-jalan—setelah kegiatan selesai pada pukul 12 siang—dan hunting tempat-tempat bersejarah yang nyaris tak dikenal orang lagi, apalagi jalur yang aku lalui ini merupakan sepenggal jalan tua dan legendaris sebagai penghubung Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) yang telah ada sebelum Marsekal Herman Willem Daendels memerintahkan membangun De Grote Posweg atau Jalan Raya Pos antara Anyer sampai Panarukan yang kebetulan melewati jalur ini. Sebagai jalur utama waktu itu, pastilah jalan ini menyimpan sejarah yang penting bagi perjalanan panjang negeri ini, khususnya peninggalan berupa bangunan tua bercita seni tinggi.

Aku ingat sebuah buku yang ditulis Adolf Heuken berjudul Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta yang menyebutkan sebuah rumah tuan tanah di daerah Cimanggis, Depok. Letak rumah ini berada di Km 34 Jalan Raya Bogor dari arah Jakarta, tidak jauh dari Pasar Cimanggis. Pada awalnya memang agak sulit menemukan rumah seperti yang ditulis di buku itu, karena tidak seperti bayanganku semula bahwa sebuah rumah besar dan terpandang seharusnya terletak di tepi jalan raya. Ternyata dugaanku meleset, rumah itu berjarak sekitar 1 Km dari Jalan Raya Bogor di dalam Kompleks RRI Cimanggis. Dari jalan raya, rumah tuan-tanah itu sebenarnya sudah kelihatan atapnya meskipun memerlukan kecermatan mata dalam mengamati ditambah insting, tentu saja. Hanya dengan melihat bentuk atapnya dari kejauhan, aku merasa yakin telah menemukan objek yang kucari-cari itu. Kenapa? Karena bentuk fisik atap rumah itu jauh berbeda dibandingkan atap-atap bangunan sekitarnya, selain bentuknya yang aneh —seperti segitiga yang terpancung bagian atasnya—ukurannya pun jauh lebih besar dibandingkan atap rumah lainnya.

Sebenarnya lokasi Rumah Cimanggis amat mudah dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua, tetapi bagi kendaraan bermotor roda empat sungguh merepotkan karena pintu gerbang menuju Kompleks RRI ini sekarang telah dipasangi portal. Belakangan aku mendapat informasi dari masyarakat sekitar jika ingin melintasi portal ini kita harus mengeluarkan "uang rokok" buat penjaganya. Bagiku berjalan kaki pun tak jadi soal asal bisa mengamati rumah tuan-tanah Cimanggis itu dari dekat, sekalipun harus berada di bawah terik matahari yang saat itu berada tepat di atas kepala. Belum lagi di kanan kiri jalan hanyalah lapangan rumput minus pohon peneduh serta beberapa menara pemancar yang bertebaran di sekitarnya. Sulit membayangkan dulunya tempat ini merupakan perkebunan yang besar, dengan pohon-pohon lebat menutupi permukaan tanahnya.

Tak lama menapaki jalan beraspal yang cukup mulus, sampailah aku di depan halaman rumah tuan-tanah Cimanggis ini. Halaman rumah dipagari tembok batako dimana di beberapa sudutnya telah tertutup rumput alang-alang. Rumah Cimanggis berdiri dengan gagahnya selama beberapa abad di tempat itu, tampak besar dan kokoh meski tak menutupi kerentaannya. Atapnya yang berwarna merah terakota berupa genteng tanah liat terlihat luar biasa besar apalagi jika dibandingkan dengan atap rumah masa kini. Meskipun sepintas masih terlihat utuh tapi jika kita amati lebih teliti akan terlihat lubang menganga di sana-sini, apalagi kondisi atap yang menutupi serambi belakang rumah terlihat runtuh di beberapa bagian karena kondisi kayu yang menopangnya telah lapuk oleh air hujan.

Aku berjalan mengitari halaman rumah Cimanggis dari samping kanan rumah menuju ke halaman belakang dimana tampak semak-semak dan pepohonan tak terawat tumbuh di sekelilingnya. Tanaman-tanaman ini amat mengganggu arah pandang kita dalam mengamati bagian eksterior sehingga upayaku untuk memotret bentuk utuh rumah ini menemui kendala. Disamping itu, serambi yang mengelilinginya sekarang telah ditutup dengan batako, seng ataupun kayu di beberapa bagian secara asal-asalan hingga semakin menimbulkan kesan berantakan.

Bagian teras depan rumah ini ditopang beberapa pilar dari batu bata berbentuk silinder dan beberapa di antaranya berdiri berpasangan dekat pintu utama, semakin memberi kesan kokoh rumah ini. Bagian atas pintu utamanya berhiaskan ukiran halus bermotifkan jambangan bunga yang sekaligus berfungsi sebagai lubang ventilasi. Semua jendela di rumah ini berbentuk serupa baik yang menghadap ke luar rumah maupun yang menghubungkan antar ruangan, dengan lengkungan di bagian pucuknya dan bisa didorong ke atas. Bentuk jendela ini rupanya sangat lazim pada masa itu. Teras depan ini sekarang ditempati oleh orang yang mengaku sebagai penjaga rumah. Sangat disayangkan banyak barang rumah tangga miliknya berserakan di serambi ini sehingga menimbulkan kesan kumuh dan berantakan bahkan kusen pintunya pun telah dipaku di beberapa bagian untuk menggantung pigura.

Setelah mengobrol beberapa saat dengan penjaga itu, aku minta ijin masuk ke bagian dalam rumah untuk mengambil gambar. Kondisi di dalam ternyata tak kalah menyedihkan dibandingkan bagian luar. Lantai dengan ubin abu-abu saat ini dipenuhi puing-puing dan sampah berserakan di mana-mana. Bagian dinding dan kusen pintu/jendela tampak kusam karena diselimuti debu juga sarang labah-labah, diperparah pula dengan gafiti para vandalis. Di bagian langit-langit terlihat banyak lubang menganga, sepertinya air hujan yang masuk dari celah genting bocor berperan besar menambah laju kerusakan bagian ini.

Sebenarnya bagian interior rumah ini—terlebih di bagian ruang utama— amatlah cantik. Tembok ruangan yang tinggi serasi benar dengan bentuk jendela dan juga pintu yang menghubungkan antar ruangan. Bagian atas pintu menuju ruangan utama dihiasi ukiran bermotif figur malaikat. Kolom-kolom dindingnya pun dihias di bagian kepalanya dengan hiasan bergaya klasik serta dipermanis dengan profil. Jarak lantai dengan langit-langit yang tinggi membuat suasana ruangan terasa sejuk. Rupanya kondisi seperti ini memang telah dirancang khusus untuk rumah-rumah Eropa di daerah tropis. Orang Belanda menyebut gaya rumah seperti ini dengan Indisch Woonhuis yang berarti Rumah Tinggal Hindia (Belanda). Aku rasa ruangan ini dahulu pasti dipenuhi perabotan artistik yang mahal harganya. Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama berada di ruangan ini dikarenakan atmosfir yang "tak nyaman" ditambah betapa repotnya harus melewati tumpukan puing dalam kondisi cahaya temaram, meskipun saat itu masih siang bolong.

Di dalam bukunya Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta, Adolf Heuken menuturkan bahwa rumah ini dibangun oleh David J. Smith antara tahun 1775 sampai tahun 1778 untuk menggantikan sebuah pesanggrahan sederhana. Pemiliknya adalah janda dari Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, seorang wanita kaya raya. Setelah wanita ini meninggal pada tahun 1787, Smith mewarisi rumah beserta perabotannya dan sejumlah perkebunan luas di sekitarnya. Akibat dari sebuah usaha spekulasi yang meleset akhirnya Smith harus rela melepaskan rumah beserta tanah perkebunan guna melunasi hutang-hutangnya itu. Rumah ini pun selanjutnya berganti-ganti pemilik. Rumah Cimanggis pernah mengalami kerusakan parah ketika terjadi gempa bumi dahsyat pada tahun 1834. Bukan hanya rumah ini yang mengalami kerusakan, tetapi juga rumah tuan tanah yang lain di sekitarnya termasuk Pondok Cina di Depok bahkan Istana Buitenzorg pun tak luput dari kerusakan.

Beberapa puluh tahun lalu Rumah Cimanggis ini pernah dijadikan rumah tinggal karyawan RRI, entah kenapa sekarang ditinggalkan kosong begitu saja. Melihat kondisinya sekarang aku kuatir ia akan bernasib sama seperti rumah-rumah tuan-tanah lainnya yang bertebaran di pelosok pinggiran Jakarta. Sebagian ada yang tinggal nama akibat digusur modernisasi kota seperti yang terjadi pada Pondok Gede atau Groeneveld di Tanjung Timur yang kini tinggal puing-puing belaka karena kebakaran hebat pada tahun 1985.

Selama berkeliling aku belum melihat papan pengumuman yang menyatakan gedung ini dilindungi, sehingga ada kemungkinan suatu saat akan begitu gampangnya digusur oleh pemilik modal. Sungguh sayang sebuah rumah tuan-tanah yang kebetulan saat ini masih tegak berdiri meskipun dengan kondisi compang-camping kelak di kemudian hari hanya tinggal nama, padahal tempat ini tentu menyimpan cerita masa lalu yang bernilai sejarah. Cerita tentang tuan-tanah yang rakus dan gemar memeras petani sekitarnya juga tentang nasib para budak yang terampas hak-hak asasinya. Semoga pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelestarian rumah tuan-tanah Cimanggis ini segera tersadarkan dan mengambil tindakan bijaksana.