Monday, July 16, 2012

Mengunjungi Jiwa-Jiwa Sepi Penghuni Makam Belanda di Kebun Raya Bogor

Sebuah iring-iringan bergerak perlahan menyusuri jalan tanah berlapis kerikil. Serombongan orang berbusana hitam-hitam berjalan teratur nyaris tak terdengar langkah kaki mereka. Tak ada suara, hanya ketukan pelan stik pada drum para serdadu yang berjalan di belakang kereta jenazah, menciptakan ritme monoton. Meski begitu di bagian belakang rombongan, sesekali masih terdengar isak tangis beberapa wanita bergaun lebar dengan topi berhiaskan pita. Sepertinya mereka keluarga dekat mendiang.

Di ujung jalan iring-iringan berhenti. Mereka kini tiba di sebuah area terbuka dikelilingi rumpun bambu yang lebat. Enam orang menurunkan peti mati dari kereta. Tiga berdiri di sisi kiri, tiga lainnya di kanan. Tembakan salvo terdengar sahut menyahut. Enam orang bergerak pelan menuju sebuah altar kayu dan menaruh peti mati di atasnya. Nyanyian requiem terus menerus diperdengarkan oleh sekelompok orang. Suara mereka menciptakan gema berpadu gemerisik daun bambu tersapu sejuknya semilir angin pagi Buitenzorg.

Seberkas sinar terang tercipta saat sinar matahari menerobos paksa celah rimbun dedaunan. Seakan menegaskan kesaksiannya atas drama kepedihan di atas permukaan tanah basah sehabis hujan semalam. Usai misa arwah diucapkan, sebuah lubang menganga telah siap menyambut jazad orang penting di dalam peti kayu menuju tetirah panjangnya. Sebelum matahari berada tepat di atas ubun-ubun, prosesi pemakaman itu pun purna sudah.

Siapakah orang yang dikuburkan? Kenapa begitu banyak orang menangisi kepergiannya? Peran apa yang telah ia mainkan? Ah, pertanyaan-pertanyan itu silih berganti menyerbu rongga kepalaku manakala aku tersadar tengah berdiri di antara puluhan monumen batu. Diriku terasa larut dalam pusaran waktu, serasa kembali ke masa lalu.

Inilah untuk kali pertama aku berdiri di areal pemakaman ini meski Raden Saleh atau Cornelis Rappard telah lama mengabadikannya dalam sebuah lukisan yang indah. Namun ketika bisa hadir dan melihat secara langsung objek yang pernah mereka hadirkan di kanvas, bisa kurasakan sebuah pengalaman batin yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Dari sini aku merasa memiliki jawaban atas sebuah pertanyaan mendasar, kenapa pelukis sebesar itu mau berlama di tempat sesepi ini? Bisa jadi karena alasan simpel: passion dan romantisme!

Adalah teman-teman dari komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya yang menggagas acara ini. Makam Belanda, hanya salah satu dari beberapa agenda napak tilas ke Kebun Raya Bogor pada hari Minggu, 18 Juli 2012 lalu. Semua objek yang kami kunjungi umumnya menarik, namun Makam Belanda yang tersembunyi di tengah hutan bambu itu telah mampu menyedot fokus perhatianku. Bahkan untuk benar-benar terlibat secara emosi dan merasakan atmosfernya, aku sempatkan diri mengunjunginya kembali tiga hari kemudian sambil memanfaatkan hari libur ketika warga Jakarta tengah mengikuti pesta demokrasi pemilukada.

****************

Makam Belanda terletak tidak jauh dari halaman belakang Istana Bogor. Meskipun demikian bila mata kita tidak awas melihat petunjuk arah yang tersedia, kita akan kesulitan menemukannya. Tempat ini tertutup oleh vegetasi rerumpunan bambu yang cukup lebat sehingga menutup pandangan mata kita dari jalan utama.
Beberapa sumber mengatakan komplek makam ini sudah ada sebelum Kebun Raya Bogor dibangun. Makam Cornelis Potmans bertanggal 2 Mei 1784 disebut-sebut sebagai yang tertua. Sedangkan yang termuda adalah makam A.J.G.H. Kostermans, seorang ahli botani yang meninggal pada 10 Juli 1994 di Jakarta. Total terdapat 42 makam, 4 diantaranya tidak teridentifikasi karena batu identitas makam yang telah rusak atau hilang dari tempatnya.

Dengan perlahan mataku mengikuti larik-larik huruf membentuk kata yang terpahat di atas batu alam. Sebagian lagi dicungkil dari lempengan marmer yang kusam karena pengaruh cuaca. Bahkan beberapa di antaranya telah sulit dibaca karena tergerus air atau tertutup lumut. Sebagian besar kata selain menjelaskan identitas penghuni makam juga berisi kalimat-kalimat penghiburan kepada pihak yang ditinggalkan. Ada juga yang menukil ayat dari Alkitab. Secara umum ada tiga bahasa yang dipakai di sini yaitu, Belanda, Inggris dan Latin.

Menarik mencermati motif hias di makam terbesar sekaligus terindah milik Ary Prins, seorang hakim, politikus, dan negarawan Belanda. Semasa hidupnya pernah menjadi wakil presiden Dewan Hindia, bahkan pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda sementara sampai 2 kali.

Pada bangunan makam dengan bagian atas menyerupai obelisk ini terdapat berapa ornamen unik. Ada simbol bintang bersudut enam, seekor kupu-kupu (atau ngengat?) di dalam lingkaran menyerupai karangan bunga. Satu lagi simbol unik di bangunan makam lelaki kelahiran Schiedam, 28 Agustus 1816 dan meninggal di Batavia, 28 Januari 1867 ini adalah Ouroboros, sebuah simbol kuno berbentuk ular menggigit ekornya sendiri. Secara umum sering diartikan sebagai infinity atau perlambang keabadian, merupakan gambaran sebuah siklus hidup yg berulang dari kelahiran-kematian-kelahiran, dan seterusnya.

Makam Dominique Jacques de Eerens, Gubernur Jenderal Hindia Belanda antara 1836-1840 cukup mudah dikenali karena ia berada tepat di depan pintu pagar komplek makam. Meskipun dia seorang pembesar yg pernah berkuasa pada jamannya namun bentuk makamnya justru terkesan sederhana. Kabarnya ia meninggal mendadak pada 30 Mei 1840 di Buitenzorg ketika masih aktif menjabat sebagai Gubernur Jenderal.

Ada lagi makam yang menarik perhatianku, apalagi ini termasuk yang disebut-sebut pada papan keterangan yang dipasang di depan komplek makam. Inilah makam dua orang sahabat karib yang tak terpisahkan bahkan ketika keduanya telah sama-sama dipanggil Yang Maha Kuasa. Makam dengan bentuk dasar persegi empat dengan sebuah pilar mini berdiri di atasnya menyimpan jazad dua orang peneliti muda, naturalis sekaligus ahli zoologi bernama Heinrich Kuhl dan Conraad van Hasselt.

Dua anak muda jebolan Unversitas Groningen ini datang ke Indonesia dalam rangka tugas penelitian atas dana NCNI (The Natuurkundige Commissie voor Nederlandsche Indie). Kuhl meninggal 14 September 1821, delapan bulan sejak kakinya menginjak bumi Indonesia karena infeksi hati yang diakibatkan iklim juga faktor kelelahan. Van Hasselt menyusulnya pada 8 September 1823 ketika melakukan perjalanan penelitian ke Banten.

Selain pejabat pemerintah dan ilmuwan, komplek makam juga “dihuni” oleh keluarga dekat pejabat tinggi masa kolonial, baik itu isteri maupun anak yang meninggal ketika masih balita. Di antaranya ada Elizabeth Charlotte Vincent, isteri ke dua Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Ia meninggal pada 14 Agustus 1851, kurang dari dua bulan setelah bayi perempuan yang dilahirkannya meninggal dunia.

Ada juga Jeannette Antoinette Pietermaat, istri Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872). Lahir pada 6 Juli 1816 dan dikuburkan di sini pada 8 April 1870. Atau Makam dari seorang putra yang terlahir meninggal dari Jean Chrétien Baud (Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang memerintah sejak 2 Juli 1833 - 29 Peb 1836) dengan Ursula Susanna van Braam di Bogor, 23 September 1834. Tercatat juga sebuah nama J.H.L.O. (Johannes Hendrik Lodewijk Otto), putra Gubernur Jendral Graaf Johannes van den Bosch (memerintah 1830-34), lahir 20 November 1834 dan meninggal pada 20 Juni 1836, dalam usia dua tahun.

Menarik untuk dicermati, saat fakta menunjukkan mayoritas penghuni makam di sini meninggal dalam usia relatif muda. Kebanyakan meninggal akibat penyakit tropis yang belum ada obatnya. Terlepas dari predikat penjajah yang melekat pada mereka, sesungguhnya mereka adalah orang-orang malang. Bagaimana tidak? Sebagian dari mereka datang dari negeri jauh demi mengharapkan perubahan nasib di tanah baru. Sebagian besar bisa kembali dengan selamat pulang ke negeri asalnya, namun tak sedikit yang meninggal di sini, di tanah asing dalam kondisi kesepian dan merana. Jadi, masih relevankah dendam warisan itu kita pertahankan?

Dan ketika matahari telah condong ke Barat, aku putuskan meninggalkan komplek pemakaman yang sarat aura kesedihan ini. Gemerisik daun bambu terdengar serupa rintihan ketika satu persatu pengunjung meninggalkan mereka kembali dalam sepi. Rasa itu terulang kembali persis seperti ketika serombongan orang-orang berbaju hitam dan kereta pengantar mulai meninggalkan gundukan tanah merah usai melaksanakan prosesi pemakaman mereka, puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Mereka tinggal terbujur sendiri di tanah dingin ini.

Di sebuah tikungan di balik rerumpunan bambu saat kakiku mulai melangkah menjauh, lamat-lamat seperti kudengar suara ratapan memelas D.J. de Eerens, memohon maaf atas kebijakan tanam paksa yg telah menyengsarakan nenek moyangku dahulu. Juga atas sikap tamak bangsanya terhadap bangsaku. Aku cuma bisa mengangguk pelan dan berkata dalam hati, setinggi apapun kedudukan mereka di masa lalu, mereka cuma manusia biasa dengan segala kelemahannya. Sehingga dengan tetap membiarkan dendam itu mengkristal dalam diri, hanya akan memperberat langkah kaki ini.***(th)
(Bogor, 16 Juli 2012)

*diolah dari berbagai sumber

Monday, September 26, 2011

Setelah 17 Tahun

Ini tahun ke-17 aku bersama keluargaku tinggal di sini, suatu permukiman yang menempati areal bekas hutan karet milik Perum Perhutani. Sebuah tempat di mana desau angin dan suara alam begitu akrab di telinga pada awalnya. Namun lambat laun berganti dengan keriuhan suara anak-anak bermain yang terasa semakin banyak saja. Bahkan bising kendaraan bermotor seperti tak pernah berhenti sepanjang hari.

Inilah sebuah permukiman yang dulu pernah masuk wilayah Kecamatan Bojong Gede dan sejak 2006 masuk wilayah Tajur Halang bersamaan dg pemekaran wilayah Kecamatan Bojong Gede saat itu. Meski begitu tak serta merta melepaskan embel-embel Bojong Gede di belakang nama komplek permukiman ini.

Begitulah lingkunganku ini, meskipun mulai padat namun masih menyisakan kehijauan di sana-sini sehingga semilir udara sejuk masih terasa pada saat-saat tertentu. Namun entah sampai kapan semua itu bertahan di tengah pertambahan manusia yg seakan tak terkontrol lagi, dimana mau tak mau harus membutuhkan ruang untuk hunian. Apakah di waktu yang akan datang masih bisa kita temukan kehijauan seperti ini lagi? Entahlah. Foto-foto ini akan menjadi saksi pada perubahan yang tengah berlangsung.









































































Monday, July 25, 2011

Situ Tonjong, riwayatmu kini

Aku "menemukan" danau ini pada pertengahan tahun 1994 ketika memutuskan pindah ke komplek perumahan baru bernama Pura Bojong Gede. Sebuah danau alam asri yang cukup luas (14,44 hektar), dan di kemudian hari baru aku tahu danau ini bernama Situ Tonjong. Situ berarti danau menurut bahasa penduduk setempat yang didominasi warga Sunda, Betawi ditambah etnis-etnis lainnya yang umumnya warga pendatang. Tonjong kemungkinan besar diambil dari nama sebuah kampung tak jauh dari tempat di mana danau ini berada.

Tak sulit menemukan Situ Tonjong, karena ia terletak persis di sisi jalan raya penghubung antara jalan raya Parung dengan kawasan Bojong Gede. Jika Anda berkendara dari arah Parung hendak menuju Bojong Gede baik melewati komplek perumahan Inkopad atau lewat jalan baru Kemang, posisi danau ini terletak di sebelah kanan kira-kira 300 meter sebelum Polsek Bojong Gede. Di antara rerimbunan pepohonan, Anda akan langsung disambut birunya air danau yang gemerlap memantulkan sinar matahari. Indah, begitu kesan pertama memandangnya. Persis seperti kesan pertamaku saat kali pertama melewati tempat ini. Inilah salah satu alasan yang membuatku betah tinggal di sini bahkan semakin membuatku jatuh cinta pada kawasan ini.

Pelan tapi pasti wajah danau ini pun berubah seiring pesatnya pertumbuhan penduduk sekitarnya. Kalau sekitar 15 tahun lalu aku masih bisa merasakan suatu aura mistis setiap melintas jalan ini—terutama saat malam hari—dan juga perasaan romantis ketika melihat pantulan wajah bulan di permukaan danau beriak di balik siluet tanaman perdu pinggir danau, kini aura itu nyaris hilang. Sekarang jalanan di sini hampir sepanjang waktu penuh dengan hiruk pikuk kendaraan yang lalu-lalang. Kios-kios penjual aneka barang dagangan pun bermunculan bagai cendawan di musim hujan. Suasana sepi alami yang dulu lekat kini semakin menghilang.

Parahnya lagi kini mulai ada pengembang yang memanfaatkan areal Situ Tonjong untuk perumahan. Padahal nyata-nyata kalau areal situ Tonjong ini diperuntukkan bagi upaya konservasi alam. Kabarnya pengembang ini disinyalir telah melanggar Perda Provinsi Jawa Barat No. 8/2005 tentang Garis Sempadan Situ dan Danau di mana di dalam Perda tersebut dinyatakan bahwa garis sempadan antara situ dengan bangunan minimal 50 meter, sementara pengembang telah melakukan aktivitasnya jauh hingga mendekati tepi danau. Upaya protes telah dilakukan warga, demikian pula sejumlah anggauta DPRD Kabupaten Bogor telah berkenan meninjau lokasi, namun tampaknya pihak pengembang tetap bergeming. Ketika catatan tentang danau ini aku susun, memang tak tampak lagi aktivitas dari pengembang. Tidak tahu apakah ini hanya bersifat sementara atau permanen. Namun seandainya pengembang tetap bersikeras meneruskan aktivitasnya, menurutku ini merupakan sinyal sebuah bencana bagi ekosistem sekitar danau.

Saat ini telah dibangun suatu tanggul memanjang di tepi danau, meskipun dibuat dengan finishing agak asal-asalan namun tanggul ini memiliki arti yang sangat penting. Bisa berfungsi sebagai tanggul pengaman bila volume air tiba-tiba melonjak saat musim hujan tiba. Apalagi belum lama ini tersiar kabar kalau peristiwa Situ Gintung nyaris terulang gara-gara pintu air macet dibuka saat volume air Situ Tonjong melonjak tajam. Untung saja semuanya bisa diatasi dengan baik. Bisa juga buat tempat duduk bagi warga yang memanfatkan tepian danau untuk sarana wisata sambil menikmati jajanan di warung-warung yang banyak bertebaran di sekitarnya. Kalau Anda ingin menikmati sensasi mengayuh sepeda air di atas danau saat ini pun tersedia sarana sepeda air yang bisa disewa hanya dengan beberapa lembar uang ribuan. Buat Anda pehobi mancing, silakan salurkan hobi Anda sepuasnya karena Situ Tonjong merupakan habitat berbagai jenis ikan air tawar. Kalau Anda beruntung, ikan-ikan ini akan mampir di mata kail Anda.

Sungguh begitu banyak manfaat yang bisa kita ambil dari keberadaan danau ini. Sayang sekali jika ada pihak-pihak yang secara tak bertanggung jawab hendak memanfatkannya bukan dalam konteks konservasi tetapi demi tujuan bisnis semata tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan. Padahal alam telah memberikan kebaikan buat manusia, sehingga sudah selayaknya manusia berterima kasih dengan tetap menjaga dan melestarikannya. Karena kerusakan alam akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Semoga Situ Tonjong akan tetap lestari eksistensinya dan tak akan pudar keindahannya.

Sunday, August 8, 2010

Jalan ke arah rumahmu















Kamar kosong tanpa sudut, di mana segala musim beringsut

di sini. Ketika panas atau hujan tak lagi mendengki
apalagi memaki. Bahkan pekat tak pernah iri pada rembulan
yang merayap di dinding malam. Sepotong jendela mengambang,
menunggu datang seseorang melongok di ketiaknya

Aku lupa mengakrabi waktu setelah sekian lama sibuk mencari wajahku
yang kau sembunyikan entah di mana. Mungkin di langit-langit rumahmu
Pada sebuah dinding dapat kubaca jelas, serupa jejak yang kau tinggalkan
untukku atau siapa saja yang sibuk mencarimu meski tahu kau
tak pernah pergi ke mana-mana

Saat menyesapi sepi dalam lindap kabut pagi ketika kaki terasa ringan
menapaki dinginnya jalan.
Atau di sepenggal malam ketika semua suara terdiam
Kecuali hembusan nafas yang menguar wangi kasturi
Kutemukan titik terang jalan ke arah rumahmu

Bojonggede, dini hari 8 Agustus 2010

Tuesday, February 9, 2010

Suatu Pagi di Tanah Nyai Dasima


Jika mendengar nama Nyai Dasima disebut, apa yang terlintas di benak Anda? Jawabannya tentu beragam. Bagi yang tahu betul kisahnya, pastilah terbayang sosok perempuan molek asal Desa Kuripan, Ciseeng yang pernah hidup sekitar tahun 1805 - 1830. Nama Nyai Dasima memang telah melegenda apalagi setelah G. Francis menuliskan kisahnya dalam bentuk roman sejarah yang selanjutnya ditulis ulang dengan versi berbeda oleh budayawan Betawi, SM. Ardan.

Nama Nyai Dasima begitu lekat dengan budaya Betawi. Kisahnya sering dipentaskan dalam bentuk sandiwara keliling dan pentas kesenian Betawi lainnya seperti Lenong, bahkan pernah pula diangkat ke layar perak.

Aku tak akan menceritakan kembali kisahnya secara panjang lebar. Namun sekadar mengingatkannya, akan aku tuliskan garis besar kisah hidupnya yang dramatis sekaligus tragis itu. Seperti telah ditulis di awal, Nyai Dasima lahir dan besar di sebuah desa kecil bernama Kuripan. Lazimnya anak-anak muda masa itu yang menginginkan kehidupan lebih baik maka ia pun berhijrah ke kota Batavia untuk mengadu peruntungan.

Ia diterima bekerja sebagai bedinde (pembantu rumah tangga) keluarga Edward William, seorang pejabat kepercayaan Raffles ketika Inggris berkuasa di Indonesia. Karena kemolekan ragawinya, Dasima pun dijadikan gundik atau nyai—sebutan untuk seorang perempuan yang dipiara tanpa dinikahi—oleh Tuan Besar Edward. Dari hasil hubungan ini Nyai Dasima melahirkan seorang anak perempuan bernama Nancy.

Merasa berdosa atas kehidupan yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam yang diyakininya, Dasima pun meninggalkan kehidupan mewahnya dan rela dinikahi oleh seorang tukang sado asal Kwitang bernama Samiun, biarpun hanya jadi istri ke-dua saja.

Perkawinanannya dengan Samiun tidak membuahkan kebahagiaan, justru dari sini hidupnya berakhir secara tragis. Ia mati dibunuh oleh seorang jawara bernama Bang Puase atas perintah seseorang. Siapakah “seseorang” itu? Versi G. Francis menyatakan Dasima dibunuh atas perintah Samiun yang konon amat mengincar hartanya. Sementara versi SM. Ardan lain lagi. Dasima dibunuh Bang Puase atas perintah Hayati, istri pertama Samiun yang cemburu karena suaminya lebih mencintai Dasima daripada dirinya. Mana yang benar? Wallahualam bisawab.


************

Legenda nyai yang cantik ini sangat menggoda rasa keingintahuanku, terutama wajah desa Kuripan di mana dari sini kisah itu berawal. Keinginan itu pun akhirnya terwujud pada akhir pekan ini setelah minggu-minggu sebelumnya selalu terkendala oleh cuaca yang tidak bersahabat. Anehnya lagi aku baru sukses mengambil foto Desa Kuripan pada hari ke-dua (Minggu) setelah hari pertama (Sabtu) semua hasil jepretanku blur dikarenakan settingan foto yang tidak tepat. Kesalahan itu baru kusadari setelah tiba di rumah.

Letak Desa Kuripan pada kenyataannya tak sejauh yang kubayangkan. Dari rumahku di daerah Bojong Gede sampai ke tempat itu memakan waktu tempuh kira-kira 45 menit dengan kendaraan bermotor. Seperti biasa aku ditemani oleh ibunya anak-anak yang selalu setia menemani ke mana pun aku pergi, padahal tujuannya justru ke tempat-tempat yang buat orang lain terkesan nyeleneh seperti kuburan tua, rumah tua dan kampung yang "tak menarik" macam Kuripan ini.

Kami mengambil rute jalan raya Bogor-Parung. Setelah melewati pintu gerbang komplek perumahan Telaga Kahuripan, sampailah kami pada sebuah pertigaan ke arah Ciseeng. Kami belok ke kiri dan terus menyusuri jalan ini sepanjang kira-kira 6 kilometer hingga bertemu dengan sebuah perempatan. Bila Anda ingin menuju kawasan wisata Tirta Sanita (Sania?) yang terkenal dengan air panas alami yang keluar dari bukit-bukit kapur, ambilah arah lurus. Tidak jauh dari perempatan ini ada papan petunjuk di sisi kanan jalan yang menunjukkan tempat tersebut.

Dari perempatan ini kami berbelok ke kiri dan menyusuri sebuah jalan beton sepanjang kurang lebih 1 kilometer kemudian berbelok kanan melewati gapura Desa Cibentang dan menyusuri jalan AMD Cibentang yang kecil sehingga jika berpapasan dengan mobil lain terpaksa harus menepi dulu. Tetapi jalan di sini cukup mulus karena telah diaspal dengan hotmix. Jarak dari gapura Desa Cibentang hingga Desa Kuripan sekitar 3 atau 4 kilometer.

Sebelum kita membahas tentang Desa Kuripan, aku ingin memberi sedikit informasi tentang sebuah rumah tua yang terkenal dengan sebutan Rumah Kuripan, sebuah rumah milik bekas administratur perkebunan besar Ciseeng—perlu diingat, daerah ini dulunya adalah perkebunan yang amat luas—yang sampai saat ini masih kokoh berdiri. Rumah tua ini berada di sebuah area luas yang dipagari tembok keliling dengan pintu gerbang yang selalu terkunci. Perlu ijin khusus untuk memasukinya. Anehnya sekarang begitu sulit untuk mendapatkannya padahal dahulu rumah ini sering dijadikan tempat syuting sinetron dan film.

Posisinya terletak tidak jauh dari gapura masuk Desa Cibentang. Sayangnya rumah itu tertutup kerimbunan vegetasi yang amat rapat sehingga bila dilihat dari luar tembok, bentuk fisik bangunan tersebut tak nampak. Padahal jauh hari aku ingin sekali menulis tentang rumah ini. Tidak tahu apakah keinginanku itu akan terkabul suatu saat nanti.
Kembali perjalanan kami menyusuri jalan Desa Cibentang menuju Kuripan. Suasana di sini masih cukup ramai dengan kendaraan roda dua yang lalu-lalang. Rumah-rumah penduduk pun cukup padat di sepanjang jalan ini berselang seling dengan kebun dan pohon-pohon yang menghijau.

Melewati batas Desa Cibentang kami mulai memasuki wilayah Desa Kuripan yang kami tuju. Suasana berangsur sepi, kendaraan yang melintas pun mudah dihitung dengan jari. Jarak antar rumah semakin menjauh. Rumah-rumah hanya menggerombol di tempat-tempat tertentu, selebihnya merupakan tanah lapang berupa ladang dan semak-semak perdu juga rerimbunan rumpun bambu. Dalam hati aku bertanya, inikah tempat asal muasal Nyai itu?
Bahkan kami menjumpai bangunan Balai Desa Kuripan yang berdiri menyendiri di antara hamparan ladang dan semak-semak serta rumpun bambu lebat di depannya. Kucoba mengintip lewat jendela kaca, ruangan itu terlihat kosong seperti telah lama tanpa aktivitas.

Dari depan balai desa, aku melintas rimbunnya rumpun bambu dengan berjalan kaki dan menemukan pemandangan lembah menghijau yang masih asri. Dari sini aku mengambil beberapa gambar dengan kameraku. Suasana pagi amat mendukung hasil jepretanku kali ini (aku sampai di sini sekitar jam 7 pagi).

Perjalanan pun diteruskan menyusuri jalan utama yang menghubungkan Desa Kuripan dengan Desa Cibentang di selatan hingga mencapai perbatasan dengan Desa Jampang di bagian utara. Di sepanjang jalan ini aku mengambil gambar beberapa sudut Desa Kuripan, diantaranya berupa rumah-rumah penduduk, sekolah dasar dan juga ladang-ladang luas menghijau yang ditanami tanaman palawija.

Sesaat kubayangkan sesosok anak perempuan yang pernah dilahirkan di sini dan tumbuh dewasa menjadi wanita rupawan yang konon sering membuat mata lelaki terpaku tak berkedip setiap kali melihat kemolekannya. Kelak dia akan menjadi buah bibir yang sampai detik ini masih dibicarakan oleh segelintir orang.


Desa Kuripan mungkin tidak banyak berubah dibandingkan hampir 3 abad yang lalu. Sedikit yang tampak berbeda barangkali hanyalah simbol-simbol yang menggambarkan modernitas dan kekinian seperti jalan yang beraspal dengan tiang listrik berderet di tepiannya, rumah-rumah yang sebagian berdinding bata dan perabotan listrik di dalamnya. Tetapi suasana pedesaan yang menjadi atmosfer tempat itu sejatinya tak pernah berubah sejak dahulu kala.

Melalui perjalanan yang cukup panjang, sampailah kami di batas Desa Kuripan dengan Desa Jampang sehingga kami putuskan berputar lagi menuju arah pulang. Kembali kami menyusuri jalan desa yang kemungkinan besar pernah dilewati Nyai Dasima ketika ia memutuskan pergi meninggalkan kampung halamannya yang asri ini menuju tanah harapan bernama Batavia. Sebuah mobilitas manusia bernama urbanisasi ternyata telah jamak dilakukan beberapa abad lalu. Ini memberi bukti bahwa pemerataan ekonomi tetap menjadi masalah tak terpecahkan sejak jaman dahulu hingga kini. Kota masih tetap memiliki daya tarik bagi seseorang guna memperbaiki taraf hidupnya bila dibandingkan dengan desa yang cenderung monoton dan tertinggal hampir dalam segala aspek.

Kami tinggalkan kampung halaman Nyai Dasima dengan seribu satu kenangan tentang sosok perempuan itu. Perjalanan ini memang masih jauh dari memuaskan karena tak ada fakta apa pun yang bisa kami gali lebih dalam. Tapi dengan kehadiran secara "on site" aku merasakan kisah yang sebelumnya seperti dari dunia antah berantah, kini menjadi kisah sejati dan terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan ini. Barangkali di situlah hikmahnya, dan sesungguhnya tak ada salahnya kita belajar dari masa lalu.

Wednesday, December 9, 2009

Cerpenku: "Elegi Marsani"


Marsani duduk bersandar di tembok stasiun. Punggungnya menempel dinding lembab sebelah WC umum. Sebuah keranjang bambu serupa bakul besar ia letakkan persis di depannya. Mulut bakul bambu ini masih disambung lembaran karton bekas dus air mineral yang ia susun secara melingkar agar lebih banyak lagi menampung puluhan bahkan ratusan buah mangga. Tangan kurus lelaki paruh baya itu tak henti meraih satu-persatu buah mangga, mengelapnya dengan kain kumal dan menyusun kembali di dalam bakul. Sinar matahari menjadikan kulitnya semakin legam saja. Kuku jari tangannya meghitam dan kusam, beberapa bekas luka sayatan masih terlihat dengan jelas di situ. Otot-otot di jari tangannya menonjol tak beraturan seperti varises di betis kaki perempuan yang habis melahirkan. Secara fisik penampilannya jauh lebih tua dari usianya. Tangannya tampak sedikit gemetar saat memegang buah mangga yang besar. Ditimangnya buah itu sesaat. Seperti sedang menaksir nilainya sebelum ia letakkan kembali di dalam bakul. Seulas senyum pun mengembang di sepasang bibir kehitaman. Harapannya semoga pembeli memberi nilai lebih bagi buah-buah yang ia jajakan.

Mulut Marsani mengeluarkan bunyi decakan pelan. Mungkin saja ekspresi sebuah keluhan, meskipun ia berusaha untuk tidak mengeluh sejauh ini tetapi ekspresi itu keluar secara spontan tanpa disadari. Kabut di mata cekungnya jelas memperlihatkan kegundahan hati. Sorot matanya yang sayu bercahaya redup menatap penuh harap berpasang-pasang kaki lalu-lalang di depannya yang terkadang berjalan pelan, kadang setengah berlari atau berhenti sama sekali. Suatu pemandangan sehari-hari yang datar dan begitu ia hapal, bahkan derap langkah itu seperti ritme musik yang selalu menemani hari-harinya, mengendap di kepala dan terbawa di dalam mimpinya. Di dalam hati ia selalu berharap ada banyak langkah kaki berhenti di depannya, melihat buah-buah dagangannya, menawar dan akhirnya memborong habis semuanya. Ia berhasrat bisa pulang secepatnya dan menghabiskan sisa hari bersama istri dan putri semata wayangnya. Tetapi tetap saja kaki-kaki itu sekadar melintas di depannya. Tak peduli sekeras apa ia berteriak menawarkan dagangannya, tumpukan buah di depannya tetap menggunung dan kembali diselimuti debu. Sudah separuh hari dilaluinya namun belum ada satu pun calon pembeli yang datang menghampirinya

Semenjak otot kakinya terasa nyeri untuk berjalan, Marsani memutuskan berhenti mengasong secara berpindah-pindah. Ia memilih berjualan di satu tempat saja tanpa harus berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari kereta satu ke kereta lainnya, dari gerbong satu ke gerbong lainnya, dari peron satu ke peron lainnya. Kondisi fisik tak memungkinkannya bersaing dengan pengasong yang lebih muda yang tentu saja lebih kuat tenaganya. Belum lagi kondisi kereta ekonomi sekarang yang jauh lebih padat dibandingkan dahulu. Jangankan untuk berjalan, bisa berdiri dengan tegak saja susahnya bukan main. Celakanya para petugas kereta pun tak segan-segan menyita barang dagangan apabila mereka berhasil menangkap para pengasong itu. Orang-orang ini semakin menambah pederitaan para pengasong yang kurang gesit menghindari kejaran. Bagi orang dengan kondisi seperti Marsani, KRL adalah sebuah harapan sekaligus pil pahit. Meski pun getir, tetap harus ia telan juga. Bagaimana pun juga rejeki harus diperjuangkan meski harus berebut dengan pedagang lain yang lebih gesit. Dalam hatinya ia yakin Gusti Allah selalu adil membagi rejeki kepada hamba-hambaNya yang mau berusaha.

Selama ini Marsani telah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan penyakitnya. Segala bentuk pengobatan telah ia coba, mulai dari yang medis sampai pengobatan alternatif. Dokter Puskesmas di kecamatan pernah menyatakan bahwa kandungan asam di darahnya tinggi, di atas 7 mg% katanya. Untuk itu ia harus berpantang makanan seperti jenis kacang-kacangan, makanan laut seperti udang, kerang, cumi dan sebagainya. Dokter pun memberikan resep obat yang harus ditebus di apotek karena stok obat generik di Puskesmas telah kosong. Harganya tentu saja jauh lebih mahal. Awalnya memang berkurang rasa nyerinya, tetapi begitu obat habis, rasa nyeri di kakinya kambuh lagi. Bagi seorang pengasong seperti dia, pengobatan medis meskipun lewat Puskesmas tetap sangat menguras isi kantongnya, sehingga Marsani harus mencari alternatif lain yang lebih terjangkau. Beberapa tetangga menyarankan untuk mencoba cara alternatif dengan meminum ramuan herbal seperti rebusan daun salam dan banyak istirahat, tetapi sejauh ini anjuran tersebut tidak banyak manfaatnya. Bagaimana pun juga ia harus mengasong agar dapur rumah-tangganya tetap mengepul meski harus menahan rasa nyeri di kaki. Bila rasa nyeri itu datang, ia hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang luar biasa sambil tangannya mengusap bagian yang sakit itu. Sedikit pun tak terlintas di hatinya untuk meratap terlebih menyalahkan Gusti Allah atas penderitaan yang menimpanya. Segalanya ia terima dengan hati ikhlas.

Sebuah kereta masuk di jalur satu dengan kecepatan tinggi. Roda-roda besi berputar menggilas rel dengan suara berderak-derak mengerikan setiap kali melindas sambungan besi panjang itu. Putaran roda-rodanya semakin berkurang kecepatannya karena jepitan rem yang terus mencengkeram cakram raksasa. Dari sela-sela antara roda bagian bawah yang menempel dengan rel keluar percikan bunga api seperti mesin gerinda. Kereta akhirnya berhenti dengan suara berdecit disusul bunyi desisan panjang mirip suara tarikan nafas seseorang sehabis berlari sprint. Penumpang turun saling berebut paling dulu. Mereka berhamburan melalui pintu yang tidak sepenuhnya bisa dibuka. Saling dorong saling sikut, seperti tipikal manusia Indonesia pada umumnya. Seorang perempuan gemuk berseragam coklat-coklat memaki dengan kasarnya. Sebuah dorongan dari belakang membuatnya terjerembab jatuh di atas lantai peron stasiun. Sebelah sepatunya terinjak kaki orang dan jatuh di kolong kereta. Ia pun harus menunggu kereta berjalan meninggalkan stasiun terlebih dahulu sebelum bisa mengambil kembali sebelah sepatunya. Marsani memerhatikan kejadian demi kejadian dengan tatapan datar. Hampir setiap saat ia melihat kejadian yang nyaris sama seperti itu. Orang berebutan naik atau turun. Orang terdorong dan jatuh. Bahkan orang memaki dan diteruskan dengan baku pukul. Seperti itulah denyut kehidupan di stasiun berlangsung setiap hari.

Berpuluh-puluh, bahkan beratus pasang kaki berjalan tergesa-gesa di depan Marsani. Seseorang sempat menyenggol ujung atas bakul dagangannya hingga mengakibatkan sebuah mangga jatuh menggelinding. Untung saja tidak terinjak kaki-kaki itu. Marsani menahan diri untuk tidak mengungkapkan rasa marahnya. Ia sadar kalau posisinya sangat lemah. Ia pun tahu kalau berjualan di peron adalah sebuah larangan, tapi baginya memang tak ada pilihan lain. Dipungutnya buah itu, diusapkannya ke kausnya yang kumal dan ia taruh kembali di tempat semula. Tanpa disadari seorang perempuan muda dengan anak kecil menggendong mobil-mobilan plastik telah berdiri di depannya, menatap buah dagangannya satu persatu dan memegangnya.

" Sekilo berapa bang?" Perempuan itu membuka percakapan.

" Biasa, teh...empat rebu rupiah saja. Kalau ambil 3 kilo boleh deh sepuluh rebu rupiah." Jawab Marsani dengan nada suara yang ramah.

" Mahal amat, bang...dua rebu aja ya?" Si perempuan menawar.

" Belum dapet, teh...belum balik modal." Suara Marsani mulai meninggi

" Ah, di atas kereta tadi dapet." Si perempuan mencari alasan sekenanya. Anak kecil di sampingnya terlihat gelisah tak sabar ingin segera pulang. Dengan sebelah tangan ia menarik-narik baju ibunya.

" Kagak dapat harga segitu, teh...apalagi ini mangga Harumanis asli... besar-besar, manis lagi. Kalau tidak percaya nih teteh coba..."
Tangan Marsani meraih sebuah potongan mangga kemudian menyodorkannya ke arah perempuan itu. Marsani mencoba tetap bersabar menghadapi calon pembeli dagangannya.

" Dua setengah dah..." Si perempuan masih belum menyerah. Anak kecil di sampingnya mulai mengeluarkan isak tangis tertahan.

" Udahlah saya turunin jadi tiga setengah, silakan tinggal dipilih." Kata Marsani sambil mengeluarkan kantung plastik hitam dari balik keranjang.

" Kagak mau, kalau boleh ya segitu...kalau nggak boleh, mending beli di atas kereta! " Kali ini si perempuan menjawab ketus sambil berjalan tergesa-gesa meninggalkan Marsani yang terbengong-bengong. Tangannya bergerak menjewer kuping anaknya dengan ekspresi penuh kekesalan. Perempuan itu pun berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi diikuti anaknya yang berlari terseok-seok mengikuti langkah kaki ibunya yang berjalan seperti kesetanan. Jerit tangisnya sayup-sayup masih terdengar di antara hiruk pikuk stasiun.

Marsani menghela nafas panjang. Tangannya tak henti mengusap dadanya yang kerempeng. Berkali-kali ia mengucapkan istighfar serta memohon diberikan kesabaran seluas-luasnya. Ternyata memang tidak mudah mencari rejeki secara halal. Untuk mengumpulkan uang seribu-dua ribu rupiah saja ia harus menahan diri dari segala hal yang menyakitkan hatinya. Padahal seringkali harga dirinya pun ikut direndahkan. Begitulah seribu satu watak manusia yang sangat berbeda antara satu dengan lainnya yang suka atau tidak harus ia hadapi. Di stasiun itu ketabahan hatinya benar-benar diuji.

Suara tangisan anak kecil tadi membawa ingatannya kepada anaknya di rumah. Seorang gadis kecil berumur 6 tahun yang lagi senang-senangnya bermanja di pelukan orang tuanya. Sebuah percakapan tadi malam begitu melekat di benaknya. Ia ingat betapa anak itu merengek-rengek minta dibelikan seragam polisi seperti yang telah dikenakan teman-teman TK-nya. Ya, sekadar seragam polisi saja yang dimintanya yang bagi orang tua lain begitu mudah mengabulkannya. Tetapi tidak buat Marsani. Uang hasil jualannya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari serta buat modal jualan hari berikutnya. Mengutang ke orang lain tak mungkin ia lakukan karena hutang yang dulu saja belum bisa ia lunasi. Satu hal yang bisa ia lakukan hanya membujuk anaknya agar bersabar. Berkali-kali sudah Marsani membujuk putri semata wayangngya yang mengancam mogok sekolah, agar mau menunggu uangnya terkumpul dulu.Tapi memang tak mudah membujuk seorang anak kecil. Alih-alih bisa ikut merasakan kesulitan yang dihadapi orangtuanya, sekadar memahami kata-perkata yang keluar dari mulut orang dewasa saja sangat sulit buat anak seusia itu. Padahal jauh di lubuk hati, Marsani justru berharap agar buah hatinya tak ikut menanggung beban yang ia rasakan. Biarlah orang dewasa saja yang menanggung penderitaan ini. Malam semakin menua, tubuh mungil gadis itu terkulai di pelukannya. Tertidur pulas karena kelelahan mengharap sebuah keinginan yang belum terwujud. Setetes air mata jatuh mengalir membasahi pipi berpoles bedak tak rata. Marsani mengusapnya dengan lembut, menatap wajah polos di depannya dalam-dalam. Hatinya terasa pedih, seperti disayat tajamnya mata pisau. Dibopongnya tubuh itu dan diserahkan ke istrinya yang segera membaringkannya di kasur lembab. Sebuah ikat rambut berwarna merah muda hasil ngutang dari si Narno temannya sesama pengasong di stasiun, terlepas dari rambut ikal anaknya dan terjatuh di lantai. Dipungutnya benda itu dan ditaruhnya kembali di atas meja kecil dekat tempat tidur buah hatinya. Di dalam hati ia bertekad untuk segera mewujudkan keinginan anaknya hari ini, tapi mungkinkah itu? Sedangkan sesiang ini belum satu pun buah dagangannya laku dibeli orang.

Pengeras suara di stasiun membuyarkan lamunan Marsani. Sebuah kereta listrik ekonomi AC berhenti, kali ini di jalur dua. Bunyi desisan keluar lagi. Pintu-pintu terbuka lagi, kali ini pintu hidrolik semi otomatis yang dikendalikan dari kabin masinis di ujung paling depan kereta. Udara sejuk segera keluar melalui pintu-pintu berwarna keperakan itu. Satu-dua orang penumpang keluar dan masuk gerbong.Tak seriuh tadi. Maklum saja, meskipun kereta ekonomi tetapi kereta ini dilengkapi dengan AC dan beberapa kipas angin dengan tarif yang lebih mahal hampir tiga kali lipat dibandingkan harga tiket kereta ekonomi reguler. Padahal pada jam-jam sibuk kondisinya tak lebih baik dari kereta ekonomi biasa, bahkan kadang-kadang malah lebih parah. Di dalam sebuah gerbong seorang perempuan setengah baya bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pintu dan berdiri di sana. Tangannya melambai ke arah Marsani yang dengan sigap menangkap isyarat itu. Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya diangkatnya keranjang dagangannya kemudian berlari menyeberang rel jalur satu ke arah perempuan yang memanggilnya.

Keranjang berisi penuh buah mangga itu ditaruhnya di ambang pintu, sementara ia tetap berdiri di atas peron yang jaraknya dengan lantai kereta sebatas pinggangnya. Tanpa menawar lagi perempuan itu memilih beberapa mangga dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam yang telah dipersiapkan Marsani. Pengeras suara berbunyi lagi memberi isyarat agar kereta segera berangkat. Wajah Marsani mulai menegang, tetapi si perempuan tetap tenang, tak peduli dengan peringatan tadi, atau barangkali memang tidak mendengarnya. Tiba-tiba pintu hidrolik itu menutup, secara refleks Marsani menarik keranjang di depannya. Tetapi terlambat, pintu terlanjur menggencet keranjang dagangannya. Ia kerahkan seluruh tenaganya menarik keranjang itu. Tetap tak bergeming. Sementara kereta mulai berjalan, Marsani pun ikut berlari di sepanjang peron mengikuti putaran roda kereta yang semakin cepat diikuti tatapan sepasang mata perempuan setengah baya yang berdiri mematung di balik pintu dengan wajah pucat pasi. Orang-orang di peron menatapnya was-was bahkan sebagian telah mengeluarkan jeritan penuh kengerian. Di atas kereta beberapa lelaki ikut membantu mendorong pintu dengan panik. Tetapi usahanya hanya menggerakkan pintu sedikit dan akhirnya kembali menutup lagi. Marsani tetap berlari menarik keranjang mangganya yang tergencet, nyeri di persendian kakinya sudah ia lupakan. Baginya keranjang itu adalah harapan satu-satunya. Ia tak rela melepasnya meski resiko yang bakal ditanggungnya begitu besar.

Jarak Marsani dengan pagar besi pembatas peron tinggal beberapa meter. Beberapa detik lagi tubuh kerempeng itu akan membentur tiang besi di depannya, tiba-tiba ia merasakan kekuatan besar menarik tubuhnya ke atas. Marsani terlempar ke udara bersamaan dengan terlepasnya keranjang dari jepitan pintu. Ia melihat dirinya dan sekelilingnya bergerak dengan kecepatan sangat lambat, seperti layaknya adegan slow motion dalam sebuah film. Dengan sangat jelas matanya melihat keranjang buahnya melayang beserta isi-isinya yang berhamburan keluar. Berputar-putar di udara sejenak sebelum akhirnya mendarat di bantalan rel, di lantai peron bahkan jatuh tepat di bawah roda-roda besi yang tanpa ampun menggilasnya. Cipratan daging buah berwarna kekuningan ikut berhamburan di udara, sebagian menempel di kolong bawah gerbong.

Pemandangan sekitarnya seketika berubah menjadi putih menyilaukan. Marsani serasa berada di sebuah lorong panjang tak berujung. Sebuah siluet yang ia kenal betul gesturnya bergerak mendekatinya. Seorang anak perempuan berikat rambut warna merah muda, serta mengenakan seragam polisi wanita berlari menyongsongnya. Kedua tangannya terentang dengan sikap seperti hendak memeluk. Tangan kanannya memegang topi dengan gerakan seperti melambai. Mendadak semua rasa sakitnya menghilang. Tubuh Marsani terasa ringan, seringan hatinya yang kini diliputi kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pun berlari dan terus berlari dengan kegembiraan meluap-luap layaknya anak balita yang baru bisa berjalan. Disongsongnya tubuh mungil di mana di sanalah segenap kasih sayang itu tercurahkan. Marsani tidak peduli lagi di mana gerangan dirinya kini. Tak sedetik pun ia merelakan kebahagiaan yang tengah ia rasakan ini terenggut begitu saja, karena bisa jadi kegelapan panjang akan segera menghampirinya. ***


Bojong Gede, Desember 2009